Sabtu, 8 Juni 2002 hari terakhir UAS semester 2 aku bergegas pulang karena ibuku harus segera dibawa ke bidan. Usia kandungannya sudah menginjak bulan ke-9. Pecah ketuban sebelum waktu yang diperkirakan di tempat umum pastilah bukan sesuatu yang diharapkan setiap ibu hamil. Terlebih lagi saat itu usia ibu rawan untuk melahirkan. Membuatku berkaca-kaca setiap kali ingat dengan cerita itu. Melahirkan untuk yang ke-4 kalinya pada usia 43 tahun sepertinya bukan sesuatu yang direncanakan kebanyakan perempuan. Kind of too old,huh?Pada dasarnya ibuku adalah sosok yang tegar, sabar, smart dan ketika itu masih sangat aktif berorganisasi. Rapat ini, rapat itu. Pertemuan di sana-sini. Secara fisik beliau terlihat sehat dan kuat. Tapi jarak antara melahirkan anak ke-3 dan si bungsu cukup jauh. 13 tahun. Di dalam kurun waktu tersebut beliau juga sempat menjalani kiret untuk membuang kista di mulut rahimnya. Menurut bidan kondisinya tidak memungkinkan melahirkan secara normal sehingga diberi rujukan agar dilakukan bedah sesar. Sempat menyangka sudah tidak mungkin hamil lagi. Ternyata "salah sangka" inilah yang mungkin membuat ibu "kebobolan" (bukankah istilahnya memang begitu?). (^_^)
Minggu, 9 Juni 2002 bedah sesar berjalan lancar. Ibu selamat dan adik kecil lahir sehat. Lega, bahagia, haru semua campur aduk. Rasanya seperti orang paling beruntung sedunia ketika jadi anggota keluarga pertama yang bisa bertemu dengan "keajaiban hidup" untuk pertama kali di ruang inkubator. A new born baby...one of the greatest miracles of life. Mungil, masih merah and guess what! ada lesung pipitnya di kiri kanan. I think he was smiling at me... It's like he was saying "olla sista...nice to meet you".
Liburan akhir semester jadilah aku habiskan dengan bolak-balik ke rumah bersalin menjenguk ibu dan adik baru serta membawakan keperluan mereka. Dengan senang hati membawa pulang popok, kain kotor dan mencucinya di rumah. Momen ini juga memberikan hikmah lain untukku. Karena ibu harus tinggal kurang lebih seminggu di rumah sakit dan ayahpun harus menemani, maka sebagai anak sulung dan satu-satunya anak perempuan dalam keluarga, aku belajar mengurus rumah dan memasak untuk dua adikku yang lain. Termasuk aku juga jadi tahu bagaimana mengurus akte kelahiran adik bayi yang akhirnya diberi nama Daud Rizki Maulana.
Liburan akhir semester jadilah aku habiskan dengan bolak-balik ke rumah bersalin menjenguk ibu dan adik baru serta membawakan keperluan mereka. Dengan senang hati membawa pulang popok, kain kotor dan mencucinya di rumah. Momen ini juga memberikan hikmah lain untukku. Karena ibu harus tinggal kurang lebih seminggu di rumah sakit dan ayahpun harus menemani, maka sebagai anak sulung dan satu-satunya anak perempuan dalam keluarga, aku belajar mengurus rumah dan memasak untuk dua adikku yang lain. Termasuk aku juga jadi tahu bagaimana mengurus akte kelahiran adik bayi yang akhirnya diberi nama Daud Rizki Maulana. Kata orang tua dulu "Anak membawa rejekinya sendiri". Kita harus sejutu bahwa tafsiran kalimat ini tidak sederhana. Tapi kita juga tidak boleh mengingkarinya. Setiap anak yang lahir ke dunia tidak mungkin diterlantarkan Sang Pencipta. Semua kebutuhan hidupnya pasti tersedia. Tergantung pada dirinya sendiri dan orang sekitar terutama keluarga. Mustahil bayi merah yang baru lahir seketika bisa bekerja sebagai akuntan dan menghasilkan uang. Guiness World Record pun tidak mungkin sempat mencatatnya sebagai "manusia paling cepat dapat pekerjaan". Please deh..Kabur kali ah...
Kehadiran anggota baru di keluarga kami tentu saja membahagiakan, penuh suka cita. Tapi ini juga menjadi hal yang menakutkan bagi ayah dan ibu. Ketika itu sudah beberapa tahun ayah kami menganggur. Sering kali ibu harus keluar rumah membawa baju yang masih layak pakai untuk ditukar dengan beras. Hanya cukup untuk makan hari itu saja. Kadang cukup, kadang tidak. Ayah seperti tidak mau tahu. Yang penting tiap hari ada nasi dan lauknya. Biaya pendidikan ditanggung salah satu kerabat. Jadi tak harus sampai putus sekolah. Sempat terbersit untuk tak lagi bermimpi jadi anak kuliahan. Kerja saja, jadi pelayan toko atau cleaning service pun tak masalah. Bersyukur...masih ada orang lain yang peduli dengan pendidikanku dan adik-adik. Kondisi sulit ini membuat seisi rumah tertekan tapi kami harus tetap hidup. Aku dan adik-adik harus bisa mengendalikan diri supaya tetap fokus sekolah dan tak dikalahkan oleh keadaan. Stres? Pasti. Semua orang di rumah ini tentu saja stres. Hanya adik kecil saja yang belum mampu bereaksi apa-apa.
Bahkan untuk biaya bedah sesar pun ayah dan ibu harus mencari pinjaman. Percaya atau tidak, pinjaman itu baru lunas setelah 8 tahun saat adik kecil kelas 3 SD. Iya, karena setiap ada uang setiap itu pula ada kebutuhan lain yang sangat mendesak. Kalau saja kami pinjam pada orang lain yang bukan kerabat dekat tidak mungkin bisa begitu. Ini hanyalah salah satu dari sekian kemudahan yang kami dapat.
Dekong, adalah panggilan sayang kami padanya. Entah siapa yang memulai memanggilnya begitu. Dia tumbuh jadi anak sehat dan sempat over weigth. Untunglah dia mulai senang bermain sepak bola dan bersepeda jadi sudah agak langsing. Usianya 9 tahun sekarang, prestasi di sekolahnya memuaskan. Hampir setiap semester jadi ranking 1 di kelas. Berbeda dengan teman-teman sebayanya yang senang bergerombol di warnet main game online, si Dekong lebih senang belajar dengan ibu di rumah. Bahkan saat liburan sekolah, jika tidak tahu harus belajar apa dia akan bete seharian. Dasar aneh!
Pada awalnya, kami kebingungan bagaimana baiknya memperlakukan adik kecil kami ini. Sering kali secara tak sadar dalam situasi tertentu kami menuntutnya untuk jadi seolah sebaya dengan kami. Padahal tak seharusnya begitu. Dan tidak seharusnya juga kami membiarkan dia bermain sendirian hanya karena kami tidak tahu bagaimana bermain dengan seorang adik kecil. Tapi bukan berarti kami akan selamanya memperlakukan dia sebagai anak kecil.
Gara-gara hobinya bersepeda sendirian di komplek sebelah, beberapa bulan yang lalu dia sempat diculik, dan ditinggalkan di pinggir jalan dalam kondisi hujan sementara sepedanya digondol penculik. Untunglah adik kecil masih dilindungi Tuhan sehingga dengan bantuan warga setempat dan seorang petugas Kepolisian dia bisa kembali ke tengah-tengah keluarga kami. Peristiwa ini terjadi hanya berselang tiga minggu setelah dia disunat. Sedih, syok, dan kami sekeluarga merasakan kemarahan yang sulit digambarkan. Masih untung kami tidak sampai kalut dan membuat keadaan memburuk. Trauma yang dirasakan adikku membuatnya takut untuk keluar rumah. Dia minta diantar berangkat sekolah sampai dengan beberapa hari berikutnya.
Apalah gunanya mendendam, toh adik ku sudah pulang dan sekarang dia sudah punya sepeda baru walaupun tidak sebagus sepedanya yang hilang. Ayah sengaja membelikan sepeda bekas supaya tidak menarik perhatian pencuri lain. Aku tidak mendoakan penculiknya ditangkap polisi lalu dipenjara atau kecelakaan fisik. Hanya berharap siapa pun itu yang tega melakukannya, akan selalu dihantui rasa bersalah sepanjang hidupnya. Rasa bersalah lebih menyiksa daripada beberapa tahun mendekap di bui.
Anak kecil sering tertarik dengan jajanan snack berhadiah. Begitu juga adikku. Setiap kali selalu beruntung. Uang jajannya utuh malah bertambah banyak karena sering dapat hadiah uang dari snack yamg dibelinya. Jika hanya satu atau dua kali saja wajar, tetapi kalau sudah membuat pemilik warung dan tetangga keheranan, tentu menarik. Lain kali aku harus membujuknya ikut kuis Super Deal 2 Miliar, pasti menang hehehe... He is the lucky one.
Dari 3 orang kakaknya, adik nomor dua yang lebih tua 15 tahun darinyalah yang diidolakannya. Sayang, sudah 3 tahun terakhir Bayu bekerja di ibu kota dan hanya pulang dua atau tiga minggu sekali. Sabtu-Minggu harus dibagi rata dengan keluarga,pacar dan adik bungsunya yang sangat manja. Terlihat sekali si Dekong menuntut banyak waktu dari kakak kesayangannya. Kadang terdengar uring-uringan sambil mulut merengut jika sedikit saja waktunya tersita karena ditinggal ngapel. Dia akan menunggu sampai selarut apa pun hingga kakaknya pulang lalu menyambutnya dengan serentetan protes. Anehnya jika si calon ipar dibawa ke rumah si Dekong tidak menunjukan gelagat cemburu sama sekali, justru akrab! Tak jarang terlihat seru bermain dengan pacar sang kakak, berdua saja. Sementara Bayu sibuk mengerjakan hal lain. Hmmm...koq bisa ya?
Senin, 3 Oktober 2011. Saat sedang menulis ini aku sudah punya suami. Hari ini usia pernikahanku genap satu tahun. Rasanya ada hal yang mengganjal di hati. Saat masih masa pacaran, ibu pernah berpesan “...kalau bisa walaupun kamu sudah berumah tangga dan punya anak kelak, ibu titip si bungsu. Bantu ayah dan ibu menyekolahkan dia sampai selesai. Jangan selalu bergantung pada kebaikan orang lain...” Sampai sekarang aku dan suami memang belum dikaruniai anak. Seharusnya aku bisa memenuhi harapan ibu walau hanya sedikit. Tapi rupanya jalan rejeki berkata lain. Tiga bulan terakhir ini profesiku hanya sebagai ibu rumah tangga biasa. Aku sendiri secara finansial saat ini menggantungkan diri sepenuhnya pada suami. Semoga besok atau lusa kehidupan berkata lain dan pada akhirnya aku bisa menjalankan amanat ibu. Amiiin...
Baby brother...I hope we will live long enough to watch you grow, graduate from collage, make a good living, get marry, and finally be old together....





