Senin, 19 September 2011

price n sacrifice

dari judulnya sih rada berat nih. ah kata siapa...bukan soal saham atau harga minyak mentah kok. juga bukan soal korban konflik di Tripoli. biasa,kalau kepingin banyak yang baca, judulnya harus agak berlebihan. ya ga? sebetulnya saya cuma mau cerita soal ketertarikan saya yang rada berlebih terhadap benda yang bernama High Heels alias sepatu hak tinggi. makin tinggi, makin kepingin punya...yah..setidaknya nyobain bentarrrr aja hehe..

mulai dari model stiletto yang sexy berat, wedges yang sweet, sampai kelom geulis khas kota Tasikmalaya pun selalu sangat menarik di mata saya. pokoknya yang bikin tumit agak naik 7 - 12 cm sehingga otot betis,paha sampai bokong tampak kencang hahaha... banyak teman sesama perempuan yang merasa lebih percaya diri dengan high heels. oh come on guys...banyak juga kok teman-teman pria saya yang mengakui bahwa perempuan terlihat lebih feminin,sexy dan bahkan lebih powerful di kantor. apalagi kalau itu perempuan lumayan punya jabatannya. minimal supervisor lah. ka-ta-nya...
elegant adalah kata yang menurut saya pas disematkan pada alas kaki tinggi ini. tapi elegant bukan berarti mahal. kalau kita mau,banyak kok yang menyediakan layanan pesan sepatu kualitas oke dengan harga miring karena belum masuk toko. kita bisa tentukan sendiri materi/bahan dan modelnya. sebaliknya high heels dengan harga selangit belum tentu nyaman dan tahan lama. anda yang punya ukuran kaki lebih kecil atau lebih besar dari perempuan kebanyakan layanan seperti ini bisa banget jadi solusi.

tapi jujur, meskipun sudah beberapa tahun jadi pecinta high heels saya baru tahu kemarin bahwa item mode yang satu ini konon sudah mulai ada sejak 3500 SM di Mesir. model sepatu hak tinggi yang berkembang pada peradaban kuno tersebut jauh dari bayangan high heels zaman sekarang. penggunanya adalah para petugas jagal agar kaki mereka tidak menginjak genangan darah binatang-binatang yang mati. ada juga chopine dari Turki yang mulai dikenal sejak abad ke IV SM. solnya dibuat tebal dan rata dari bagian depan sampai belakang. kegunaannya adalah untuk melindungi kaki saat berjalan di area berlumpur. semakin tebal lumpur semakin tinggi pula chopine yang dipakai. tahun 1950-an orang mulai memikirkan sisi estetikanya sehingga sepatu dibuat lebih fashionable. terciptalah model stiletto dengan ujung hak lebih kecil setinggi
10cm.
sumber yang lain menyebutkan sejarah high heels yang lebih ekstrem. yaitu di London, Inggris sekitar tahun 1700-an. saat itu penduduk sepertinya belum mengenal teknologi saluran pembuangan apalagi toilet seperti sekarang. sehingga mereka buang hajat di sembarang tempat. even di jalan-jalan tempat orang berlalu-lalang. sepatu hak tinggi dibuat agar penggunanya terhindar dari menginjak tinja.
huek! huek!...jorok banget seeeehhhhh!!!!
ok that's enough! stop it!! hahaha...

saya sering dengar pakai high heels terlalu lama bisa bikin kaki pegal-pegal,varises (urat-urat menonjol sekitar betis belakang, dekat mata kaki, dan paha),dll. keluhan rasa sakit pada kaki lansia perempuan lebih banyak daripada lansia pria. ini disebabkan salah satunya karena penggunaan jenis alas kaki pada masa muda mereka. seperti yang kita tahu model sepatu pria rata-rata nyaman dipakai sehingga tidak terlalu beresiko untuk persendian kaki.

ada baiknya jika anda menyimpan cadangan flat shoes atau sandal di kantor. dan pastikan hindari high heels terutama stiletto saat shoping. coz, aktifitas yang satu ini biasanya membuat kita berjalan kaki dan berdiri selama berjam-jam. gunakan alas kaki yang bersol rendah saja agar nyaman dan tidak cepat pegal.

so, berapa pasang pun high heels yang anda punya di rumah, lima? sepuluh? tujuh belas? ratusan sekalipun... just use them wisely, darla. memangnya anda rela berpegal-pegal ria sekarang dan belum lagi beberapa tahun ke depananda harus bersusah payah mengobati varises, lalu menanggung akibat yang lebih parah saat
anda menua?  
that's what i mean with.... price and sacrifice.    

Minggu, 18 September 2011

introduction...

rada gerah...tanda-tanda mau hujan atau karena saya belum mandi? yang jelas sudah hampir tengah hari. so, wajar kalau agak panas. almost everyday setelah suami sarapan dan berangkat kerja saya sendirian di rumah. cuma nonton tv,sekedar bermalas-malasan di tempat tidur, main game,  atau hal lain yang kurang berguna dan ngga penting . begitu terus sambil menunggu suami pulang. benar-benar bukan aktifitas yang menyehatkan, untuk badan apalagi buat jiwa dan pikiran. jelas sangat tidak disarankan untuk ditiru.

hari ini ada blogspot.com yang selama ini tidak pernah menarik perhatian saya,tiba-tiba menggiring saya untuk coba-coba duduk di depan layar monitor dan yah..akhirnya saya tergoda untuk menulis sesuatu...tapi tentang apa ya..?  menuangkan sedikit ganjalan dari hati mungkin akan cukup melegakan...atau bahkan menyenangkan.

tidak sampai setengah bulan lagi saya dan suami akan merayakan ulang tahun perkawinan kami yang pertama..here we go: our 1st aniversary !!! tapi belum ada tanda-tanda saya berbadan dua. sering kali ada teman yang bertanya, "udah isi belom..?" or "udah punya dede bayi belom..?" dan la..la..la..pertanyaan yang sama dengan susunan kata beda-beda tipis. sama halnya dengan mertuaku, terutama ibu mertua. "cepetan hamil, ibu kepingin cepet nambah cucu. mumpung masih ada umur..".
for your information, suamiku adalah anak bungsu dari lima bersaudara. semua kakaknya sudah menikah dan punya anak. total jenderal keponakannya ada sebelas. it means mertuaku sudah bisa menggiring cucu-cucunya bikin kesebelasan sepak bola. "tapi kan dari si bungsu ibu belom dapet cucu..." oh Lord.
can't you see, sometimes i feel like this is all my fault. would you please stop asking about it...

di sisi lain keluargaku tidak pernah mempersoalkan ini...let it flow...bahkan mereka sepertinya lebih senang jika aku dan suami bisa menikmati suasana "penganten baru" sedikit lebih lama. sekaligus sembari saling mengenal lebih jauh pribadi asli yang sesungguhnya, menyelami pikiran dan tabiat satu sama lain.

belum adanya anak dalam sebuah pernikahan yang berumur satu tahun, bahkan bertahun-tahun bukan berarti kami tidak sehat. bersabarlah sebentar lagi...saya pun bersabar, meski usia 29 tahun termasuk usia rentan karena setahu saya ini adalah peralihan ke fase kehamilan rawan pada wanita di negeri ini.
tunggu sedikit lagi... mungkin karunia itu belum dipercayakan Tuhan pada kami karena menurut penilaian-Nya kami belum siap.
maybe we're just not ready yet...