Senin, 25 Juni 2012

...


Luv...
Even water needs its own path to flow the right stream

So do I
I need to flow, evaporate, then finally drop happily...
I mean it
Let me be the pouring rain
It's alright, really...
I'll find my way back to the right ocean

I'll find my way home...

Senin, 18 Juni 2012

Coffee Facts

  • Dunia mencatat awal manusia mengenal minuman bernama kopi adalah di Ethiopia, Afrika sekitar 1000 SM.
  • Seorang saudagar Arab membawa benih kopi dari Afrika ke negaranya lalu dibudidayakan untuk pertamakalinya.
  • Seorang penggembala kambing bernama Khalid adalah orang pertama yang mengkonsumsi kopi. Hal ini dilakukannya setelah mendapati kambing-kambingnya tetap terjaga walaupun hari sudah malam setelah memakan sejenis tumbuhan.
  • Kata "Kopi" berasal dari bahasa Arab, "Qahwah" yang artinya "kekuatan". Orang Turki menyebutnya "Kahveh". Sedangkan dalam bahasa Belanda disebut "Koffie".
  • Pada awalnya kopi hanya dikonsumsi sebagai minuman berenergi.
  • Penyebaran agama Islam dari negara-negara Arab sangat berpengaruh terhadap perkembangan kopi di dunia, mulai dari India, Italia, Eropa, Indonesia, dan negara-negara Amerika.
  • Tahun 1690, Kolonial Belanda membawa benih kopi ke Indonesia (Pulau Jawa) untuk ditanam secara besar-besaran.
  • Gereja di Ethiopia sempat mengeluarkan larangan konsumsi kopi karena di wilayah Timur Ethiopia dan Yaman kopi digunakan dalam ritual keagamaan yang bertentangan dengan ajaran Kristiani.
  • 1453, Ottoman Turki memperkenalkan minuman kopi di konstantinopel. Di sana kemudian dibuka kedai kopi pertama di dunia bernama Kiva Han pada tahun 1475.
  • Tahun 1511 kopi dianggap minuman suci oleh Sultan Mekah.
  • 1600, Paus Clement VIII mengizinkan umat Kristiani meminum kopi setelah timbul perdebatan karena minuman ini berasal dari negara Arab. Di tahun yang sama kopi masuk ke Italia.
  • Di New York, kopi menggantikan bir sebagai minuman terfavorit (1668).
  • 1675, Franz Georg Kolschitzky menemukan biji kopi saat terjadi perang di Viena. Kemudian dia membuka kedai kopi di Eropa Tengah dan menjual minuman kopi yang telah disaring serta diberi pemanis, dan susu.
  • 1900, Perusahaan Hill Bros mengkomersialkan minuman kopi kalengan.
  • Di tahun 1903 Ludwig Roselius berhasil memisahkan kafein dari biji kopi dan menjual produknya dengan nama Sanka di US.
  • 1946, Achilles Gaggia berhasil membuat kopi Moccacino untuk pertama kalinya.
  • Kopi Luwak adalah turunan dari kopi arabika dan robusta. Varian kopi asli Indonesia ini masih menduduki peringkat tertinggi sebagai kopi termahal di dunia.
  • 1971 di Seattle-Washington DC, 3 orang mahasiswa membuka kedai kopi Starbucks yang pertama. Saat ini Starbucks adalah jaringan coffee house terbesar dengan 16.600 kedai yang tersebar di 40 negara di seluruh dunia.




Kamis, 14 Juni 2012

My Last Morning Coffee - the notes

I've been here for 2 months. Still haven't find what I'm looking for. I think my Indonesian family just don't wanna be found.

I saw this girl moving into this neighborhood. She's younger than me, 25 I guess. Pretty cute...
Every morning I saw her riding that yellow motorcycle.
Always curious bout what I'm doing.
One day she said "Pagi..." but I didn't say anything. I keep staring at her, she got scared!
hahahaha...yeah that was funny!
------

Last night I saw a guy walking her home. They kissed. New boyfriend, I guess.

The plan was, as soon as I'm done with the legal matters maybe I can date her.
But since I lost my chance, I'll just make friends with her...
-------

It was raining heavily. She came up, soaked up wet with 2 beers in her hands.
Suddenly she just smashed into me, and cried.
She told me everything, then I realized I still got that chance.
There's no way that i'm gonna waste it ...
I won't let go!
She's mine now...
-------

Today she took a day off just to make sure I got to the airport safely
Better of this way
Before we get in too deep and become much harder to let go of each other
I wish I could stay
I do...
------

I can hear it in her voice
She's missing me...
Don't worry, Luv
I'm right here...
Just a phone call away from you

But then she said she didn't believe in a long distance relationship
Alright, I guess I won't stand in her way...
-----

Been here for 5 weeks now
Mom's not getting any better
That night I heard she was talking in her sleep
It was something like "..go on. but promise me to be happy.."
The next morning, she was no longer breathing
She's gone...
------

I finally made my cousin take over the restaurant after 2 months convincing.
Now I don't see any reason to stay here.

I should go back.
Build my very own Spanish Resto.
And if I can marry a local girl, I might get permanent residence permit
-------

I'm coming, Luv...
I need to know if I can have you one more time
But this time I want it all ....









My Last Morning Coffee - part 9 (final)

(you didn't even seal it with a kiss...)

Here I am sitting up in my room, looking through the window at a spot where we used to spend time together. Rumah ungu itu sepi seketika. Seolah sudah ditinggalkan berbulan-bulan. Besok pagi saja aku mampir...

Lampu ruang makan masih dibiarkan menyala. Isi lemari es-nya masih lumayan. Termasuk persediaan kopi. Mungkin cukup untuk 2 minggu ke depan. Lalu aku tertuju pada kamar tidurnya yang juga dibiarkan terang-benderang. There's a package next to his bed. Dia meninggalkan sebuah sketsa.
Secangkir kopi dengan sebuah catatan kecil di bawahnya.
= my sweetest latte=

Aku adalah perempuan yang tidak pernah meyakini sebuah hubungan jarak jauh.
Memiliki dan dimiliki tidak pernah akan cukup tanpa kehadiran fisiknya. It wont' work!
2 minggu, 3 minggu, 1 bulan...
I'm not sure we can go on this way.
I need my man right here with me so I can see his face, look into his eyes, touch his lips with mine...

(I'm craving for you, Terry...)

Kunci rumah sudah kukembalikan pada pemiliknya.
Berarti sudah genap 2 bulan.
Yeah.. It's been two months since the day he left.
Another moon, another sun, another rainy day...
No more phone call, e-mail, message, Nothing!
He's just vanished!

(maybe it's about time to carry on...)

Teman-temanku sibuk sendiri. Semua waktu tersita dengan urusan kantor, bisnis sampingan, pacar, keluarga, etc, etc. Apa sudah tidak ada yang tersisa buat aku? Rasanya seperti makhluk paling kesepian sedunia. Shopping sendirian, ke toko buku sendirian, ngopi pun sendirian. Yola dan Alex sudah punya tempat favorit mereka sendiri.

(I'm a lonely coffee...
every cup tasted bitter without you...)





"Temennya pada kemana , Non?"
seorang Barista bernama Andre menyapaku suatu kali saat coffee shop sedang sepi pengunjung.
The place was too quiet that night...

As days go by and fade to nights
I still question why you left
I wonder how it didn't work out
Now you're gone 
And memory is all I have for now...
("Someday" John Legend)


Oh... crap!! Why this song??
Huuffftt...You're right. I got no friend, no love either... 
Could you please stop reminding me that!
"Ndre, playlist nya bisa diganti ga?"
"Oh...ok. Sorry..." Syukurlah dia cepat tanggap.
"Thanks.."
Sejak malam itu aku berteman dengannya. Sesibuk apapun dia dengan coffee art-nya, Andre selalu menyempatkan diri menyapaku. Lama-lama dia jadi satu-satunya alasanku untuk tetap datang, 3 to 4 times a week.

It's pretty late, almost 10.30 PM. Aku tidak bisa mengganggu Andre karena malam ini banyak sekali orang yang datang. Ada acara reunian or something. Ya sudah, aku online saja. Tapi tidak ada yang menarik juga di sosial mediaku. Angry Birds dech...

Facebook chat box pops out:

Terrence : hi...
Najma : hi...how r u?
Terrence : pretty good... miss me?
Najma : yeah... a little lol
Terrence : lol... so, what r u up to?
Najma : i'm at the coffee shop right now, all by my self... playing angry birds
Terrence : no kidding?! where's ur boyfriend?
Najma : I don't have one
             my last boyfriend left me
             he went back to sydney! remember?
Terrence : hahaha! 
                So... r u seeing someone lately? 
                or dating maybe?
Najma : i wish i could say yes. 
             but no... i'm not

Terrence : do u think i still have one last chance?
Najma : i told u before, i don't believe in a LDR

Terrence : alright... look around
Najma: what do u mean?
Terrence : just look around
Najma: HAHAHA very funny!
            why should i do that for?
Terrence : come on najma
                do it now!

Aku melihat ke sekitar tanpa bermaksud menemukan apa pun.
But there he is.... across the room...


(don't come closer... 
unless you're here to stay, Terry...)


           








Selasa, 12 Juni 2012

My Last Morning Coffee - part 8

Just like the other night, I'm sure this one is another temporary lust.
It won't last...

So, I date him though. Almost 2 weeks now...
Dengan sadar aku menjalani ini untuk sementara. Terry di sini hanya sebentar. Visa Kunjungan Terbatasnya akan habis 3 - 4 bulan lagi. Jadi aku sangat berhati-hati dengan perasaanku. Jangan sampai aku jatuh cinta sepenuhnya. Aku tidak siap dengan ujungnya nanti, saat dia harus kembali ke Sydney.
Lagi pula jika ini berjalan dengan serius, aku takut pengalaman ibunya terjadi padaku juga. I love my family...

Somehow I'm using him to fill the emptiness after I let go of Alex completely.

Hubunganku dengan Yola dan Alex semakin hari semakin berjarak. Nyaris tanpa komunikasi sedikit pun. Aku yakin Yola tidak berani memulai duluan karena dia pikir dialah yang paling bersalah. Rasanya tidak adil jika aku  menjauhinya begitu saja. Hati tak bisa dipaksakan. So does my heart, I can't force my heart to hate her.
"La, gw kangen. Ktemuan yuk.."
"Gw juga mo ngobrol sm lo. Balik gawe ktmu di coffee shop ya..."

Setelah basa-basi, aku membuat pengakuan dosa bahwa aku pun pernah jalan dan membiarkan Jay menciumku dulu.
"What???...Ya udah lah ya. Toh sekarang Jay dah punya yang laen. Elu dah dapet bule, cakep lagi..."
"Yup.. dan elu dah dapet Alex. Tenang La, belum gw apa-apain koq hahahaha..."
"I couldn't make Jay love me..." Yola menghela nafas dalam.
"Like I couldn't make Alex love me..." aku meng-amininya.

1 bulan berlalu, everything's just fine except for my relationship with Terry. Seperti yang kutakutkan, hari itu datang juga. Terry harus pulang lebih cepat karena ibunya sakit keras. Sebagai anak tunggal, tentu saja dia harus merawat Nyonya Guilardo.
"I'm leaving tomorrow. I'm so sorry Luv, I wish I could stay for good..."
"It's alright. Your mom needs you more than I do now. Come on, I'll help you pack..."

(why does it hurt so bad?
I thought I don't love you...)

07.00
"Morning... how was your sleep?"
"Not so good... Don't worry, I'll sleep again on plane?"

(I couldn't sleep either, Terry...)

"Here... I made you coffee."
Dia heran melihatku belum pakai sepatu dan datang hanya dengan berjalan kaki.
"This is my last morning coffee with you. So, I won't go to work today..."
Penerbangan ke Autralia tidak tersedia di Husein Sastranegara. Aku mau menemaminya sampai Jakarta....
"I paid the rent for a year. I want you to keep the key... You can stay here for 2 months if you want to, then you can return the key to Pak Wijaya..."
"Oke...." Damn! I can't help my tears from falling...
"I'm so sorry....We'll meet again someday..."
He embraces me tight for the very last time...

(don't promise me anything Terry....
just say goodbye...)





Senin, 11 Juni 2012

My Last Morning Coffee - part 7

and the rain is falling....
just like my heart, the sky is crying....

Aku tidak sanggup membayangkan apa yang mungkin terjadi. I just wanna go home....
Aku tancap gas, tidak peduli lampu merah atau kendaraan lain. But then I realized something. Maybe I deserve this. Maybe its a karma. Pikiran ku kembali pada waktu Jay menciumku malam itu. Seandainya Yola tahu, dia pun akan membenciku. Dengan baju basah kuyup aku masuk ke sebuah mini market. I grab 2 beers and a pack of cigarettes.

There he is, working something on his laptop.
"Wow! You're soaking wet!" Terry sedikit kaget saat menyadari aku sudah berdiri di hadapannya.
"Wanna drink with me? It's just beer..."
"Oke ... Sure!"
Tapi bukan menyodorkan minuman padanya, aku malah menghempaskan diri ke tubuh tinggi besarnya. He's kind of confused for a few seconds, but then he wraps his arms around me.
"It's cold out here. Lets go inside. You can wear my shirt, then you can tell me everything.."
Jika saja ini terjadi saat pekerjaanku tidak terlalu padat, I believe I can manage my heart well.

Setelah ganti baju, aku kembali ke ruang tamu. Terry tertawa karena aku terlihat seperti hampir tenggelam dalam t-shirtnya (hihihi).... Dia sudah menuangkan bir yang kubawa tadi ke dalam gelas. Hujan semakin deras dan ini sudah hampir jam 1 siang. Akhirnya aku ceritakan penatku dan tentu saja kejadian hari ini plus cinta segi empat yang terjadi antara aku, Yola, Jay, dan Alex.
"So, the guy who kissed you that night was Jay?"
"You saw it???"
"Yeah...."
Next thing I know, sudah 3 batang rokok yang kuhabiskan. Terry hanya menggelengkan kepala.
Bad habbit huh? hehe...
"I better cook something.." katanya sambil melengos ke dapur kecilnya.

Aku baru sadar ternyata rumah ini nyaman sekali. Rapi dan wangi!
"So, what you do for living?"
"Back in Sydney, I took care of the restaurant business. My father passed away 4 years ago.
My mom is too old to run it alone by her self..."
"You should go back and help your mom..."
"I can't.."
"Why?"
"You've got no friend left but me..."
"Shut up!!!"
"Hahaha... Naah, my cousin graduated from a culinary school 8 months ago.
My mom got a professional  partner now. So, she'll be alright..."
Hanya 15 menit dan dua porsi Paella pun siap disantap. Paella adalah salah satu Spanish cuisine yang berisi nasi, udang, remis/kerang, kacang polong atau sayuran lain yang dimasak dengan bumbu khas negara-negara   yang berbahasa Latin (which is pedas!).

Perut kenyang, hati lega, hujan reda. Waktunya pulang! Aku pakai lagi baju basahku. Rokoknya masih banyak. Lumayan, siapa tahu nanti malam aku nge-drop lagi hehe...
"Thanks for everything, Terry. You're the best.."
This is the time when he pulls me closer...
Dia memelukku sekali lagi, nafasnya terasa hangat dan semakin mendekat....
I can feel his lips... gentle and sweet...



( I surrender my heart to a beautiful stranger...)

My Last Morning Coffee - part 6

"Working overtime again?"
"Yeah... like I have another choice haha..."
Hmmm... serasa ditemani 2 orang ganteng sekaligus.
"Oke... I guess I'll call you later"
"Sure... I'll text you..."

Sayangnya aku baru sampai kostan jam 10.15
Kepala ku pening... Kalau sekali saja tidak mandi dan gosok gigi, tidak masalah kan? Aku terlalu lelah.
Sms dari Terry masuk tepat saat aku baru akan mengirim pesan padanya.
"I think you're too tired to talk... sleep well tonight..."

Thank God its weekend!!!
Pagi sekali aku sudah menyusun rencana. Aku ingin menebus waktu-waktu yang hilang dengan teman-teman. Aku mencoba menghubungi Yola, dia terdengar senang karena aku mengajaknya jalan seharian. Alex pun akan ikut bergabung setelah pulang dari bengkel, mobilnya agak bermasalah. Hanya Jay yang menolak. Dia harus  mengantar Ibunya pulang ke Bogor. Ya sudah, tapi mungkin Yola akan sedikit kecewa.
Aku bilang akan mengajak Terry, dan mereka tidak keberatan.

Biasanya aku menjemput Yola atau Yola menjemput aku dengan motor masing-masing. Tapi kali ini entah kenapa motornya tidak mau menyala. Aku putuskan untuk berangkat siang sampai Alex beres dengan urusan bengkelnya lalu aku minta dia menjemput Yola. Dan aku tentu saja berangkat dengan membonceng Terry, mi amigo from Sydney. Agak disayangkan sebenarnya, Terry hanya sedikit sekali menguasai kata-kata dalam bahasa Indonesia. Belakangan aku baru tahu ternyata Ibunya sangat terpukul dengan sikap keluarga besarnya di sini yang lantas tidak lagi mengakui keberadaannya setelah memutuskan menikahi seorang Katolik berdarah Latin. Sementara keluarganya adalah pemeluk Islam yang sangat konservatif. Dia sangat sedih dan marah. Sampai pada satu titik memutuskan untuk menghapus dan membenci segala sesuatu yang berkaitan dengan darah Indonesianya.
"She was broken-hearted. She never wanted to be loving that way... She didn't choose her destiny. Life brought my father to her."

Yola dan Alex sudah menunggu di coffee shop biasa. Aku mengenalkan Terry pada mereka. Kami dengan cepat jadi akrab.
"Kita dah kelamaan di sini, lanjut kemana kek..." Yola sudah bosan. Akhirnya kami putuskan untuk pergi nonton. Ada film baru, sepertinya seru...
Baru saja mengantre, Yola mencubitku. Dia memberiku isyarat ke arah jam 3.

Jay sedang mengantre di loket tiket lain dengan seorang perempuan cantik yang menggandengnya manja. Muka Yola merah, matanya berkaca-kaca. Orang yang disukainya beberapa bulan terakhir ternyata sudah punya orang lain.
"Guys, nontonnya boleh pindah ga? Ke Blitz aja yuuuuk..."

Suasananya sudah tidak enak, sebaiknya pulang saja. Yola, meskipun 1 tahun lebih tua dariku tapi dia itu sangat perasa. Dalam situasi seperti ini, jangan harap dia bisa mengendalikan diri.
"He got me misleaded all this time..."

(I know, Sissy. I know...)

"Lex, tolong anter Yola balik ya..." Even the truth is I'm a bit jealous.
But it's alright, aku lebih khawatir dengan Yola.

It's too bad, things didn't go as I planed. Sampai di parkiran motor Terry sedikit bergumam, aku tahu dia masih belum mau pulang. "Are you sure we're just gonna go home? I think the book store across the street is pretty interesting..."
I got the point, aku pun membawanya masuk ke Gramedia. Pilihan pertamanya adalah Kamus Indonesia-Inggris, lalu dia mengambil satu buku lain, Laskar Pelangi.
"This book is great. I have the english version...The Rainbow Troops."
"Yes,Sir. I agree..." Mau belajar bahasa Ibunya rupanya. Sementara aku memang sudah lama menunggu Supernova #4 : Partikel-nya "Dee" Lestari.
"You must teach me Bahasa, Najma..." pintanya sembari menutup pagar belakang rumah ungu itu.
"My pleasure.... G'night, Terry."
"G'night. Thanks for taking me out. Next time it's gonna be a date.."
Aku cuma tertawa sambil berlalu bersama Juju ....

(that's right Terry, we should go out on a date sometimes...)

It's a cloudy Sunday. Aku ingin menghibur Yola. Mumpung belum hujan, aku mampir membeli camilan. Siapa tahu di kostannya tidak ada makanan. Seperti yang sering kulakukan, aku datang tanpa menelepon lebih dulu. But today I wish I called her first. No! I wish I didn't even come ...
I know that black CRV...
What is he doing here?
Did he spend the whole night with her?


(Please Alex... tell me I'm wrong...)





Sabtu, 09 Juni 2012

My Last Morning Coffee - part 5

"Hi...!" dia menyambutku tanpa beranjak dari kursi rotannya. Sekarang selain ada secangkir kopi, sepertinya dia sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya. Kemajuannya pesat sekali...
"Is that cappuccino?" Apa selera kopinya pun ikut berubah?
"Yes. have a sit.... Let me get you some..."
Aku duduk, lalu dia masuk ke dalam rumah dan kembali dengan secangkir cappuccino untukku.
"Terence Gilardo by the way. Call me Terry."
"I'm Najma. I brought you this..." aku memberikan sekotak kecil Rainbow cake yang kubeli tadi.
"Oh..Thank you. You're very kind. Well, I used to drink Indonesian black coffee... but I wanna try something new..."

(I know... Pleasure to meet you,Terry)

Dari obrolan sekitar 1 jam itu banyak sekali yang aku tahu.
Ayahnya berdarah Latin dari Cartagena, sebuah kota pantai yang cukup luas di bagian utara Colombia. Sekitar 60 tahun yang lalu bekerja sebagai seorang teknisi di sebuah pertambangan mineral di Tom Price Mountain, Australia Barat. Di usia 30an memilih berhenti dan membuka usaha restoran kecil yang menyajikan Burrito, makanan khas Amerika Latin terutama Mexico. Burrito biasanya terdiri dari tortilla (adonan tepung gandum atau tepung jagung yang dimasak pipih dan bundar seperti dadar) yang diisi dengan beef atau sayuran. Setelah 6 bulan berjalan, Gilardo Senior bertemu dengan seorang mahasiswi asal Indonesia yang sedang kuliah di University of New South Wales, sebuah universitas di pinggiran kota Sydney. Mereka jatuh cinta, menikah, menjalankan bisnis restoran bersama, dan 32 tahun lalu lahirlah laki-laki di hadapanku ini.

(No wonder!
2 exotic people from 2 different exotic countries 
<blended perfectly> = 
a delicious looking creature!
Hehehe...)

Setelah memergoki istrinya berselingkuh dengan anak laki-laki yang 11 tahun lebih muda darinya, Terry melarikan diri ke Bali. Sementara urusan perceraian, dia serahkan pada Lawyer-nya. Keinginan yang kuat untuk mengenal kerabat dari pihak ibu membawanya meneruskan petualangan ke Bandung. Dia pun sampai mengontrak rumah ungu ini. Tapi sayang, sudah hampir 6 bulan di sini hasilnya nihil. Bisa dibilang keluarga ibunya memutuskan hubungan sejak lama karena sebenanya mereka tidak merestui hubungan anak perempuannya dengan seorang laki-laki asing dengan keyakinan yang berbeda.
"I found my uncle's address, but somebody else bought the house 5 years ago. So, I'm stuck here with Kapal Api hahaha...."
Kami tertawa lepas sampai akhirnya terdengar Adzan Magrib dan aku harus pamit pulang.

(thanks for the coffee ...
can I offer you a wonderful friendship?)

Aku tahu kantor ini memang belum establish. Tapi jika harus selalu mengerjakan hal-hal di luar job desc masing-masing karena belum "aman" untuk merekrut karyawan baru, aku pun bisa meledak!
"Jay, sebenernya gw nech Copy Writer ato Content Writer sih? Gw pikir cuma project yang sama Alex doang. Koq jadi jadi keterusan gini?"
"Iya gw ngerti kerjaan lu overload sekarang. Please sabar dulu sampe at least 6 bulan lagi lah. Gw pun Senior Marketing Naz, tapi ini dah ke-4 kalinya gw musti pimpin project. Si Vicky pun sama. Padahal job desc-nya dia Web Designer..."

6 months???
Bisa mati berdiriiiiiiiiii!!!!

Gara-gara masalah ini, aku harus merelakan waktu "senang-senangku" tersita, jam tidur berkurang, aku juga sudah jarang bertemu Yola. Malah lebih sering lembur. Ya seperti malam ini. Rasanya jadi bongkok sebelum waktunya karena harus memikul beban 1 ton di punggungku yang rapuh ini (Huek!)
Hanya ada Satpam dan 1 orang rekanku dari divisi lain. Ini adalah gelas kopiku yang ke-3.
Jam di monitor menunjukan 20:07 PM. Sementara content yang harus kukerjakan masih ada 4 lagi.

YM pops out:
Alex : "masih di kantor, non?"
Najma : "iya nech....koq lu tau?"
Alex : "si yola ngadu ma gw, katanya susah ngajak lu jln. lembur mulu!"
Najma : "hahaha.... mau nya sih kabur dari td. tp bsk gw pasti d maki2!"
Alex : "wkwkwkwk...ya udh, gw temenin deh ampe lu kelar"
Najma : "aseeeeeeeekk :D

(Alex, would you mind if I ask you to come..?)

***...I have died every day, waiting for you...
Darling don't be afraid, I have loved you for a thousand years...***

My phone rings, and I saw his name :
Terry.






Jumat, 08 Juni 2012

happy 10th birthday....

today is my Baby Brother's 10th birthday...
I have nothing but a prayer for him ...

Dear God ...
make him happy and always healthy ...
don't let him cry in misery ...
he was just a baby the other afternoon ...
but he'll be grown up anytime soon ...

later in time when he is a man ...
and ready to take his every chance ...
i want to see him travel the world ...
from east to west, from south to north ...

where ever he may go to reveal the secrets of life
please let me know that he'll be alright ...

Tell mom, i'm sorry...

Ketika itu hari menjelang sore. Lembayung jingga di langit barat mempersilahkan Sang Surya bergulir ke peraduannya. Dua orang saudara kandung sedang duduk2 di teras. Keduanya sangat mengagumi lukisan alam yang Maha Dahsyat.

Sang adik bertanya, "Kalau sore ini terakhir kalinya kamu lihat matahari, kamu mau ngapain Kak?"

Kakaknya terdiam sejenak lalu tersenyum tipis sambil menghela napas panjang dan menjawab,
"Aku mau titip pesan sama kamu buat Ibu. Tolong bilang, terimakasih banyak sudah sangat sabar dan kuat. Meskipun aku sering membantah dan berani mengadu argumen dengannya, Ibu adalah sahabatku. Tolong bilang juga, maaf aku terlalu sibuk hari ini jadi lupa membeli cokelat yang Ibu minta tadi pagi..."

Kamis, 07 Juni 2012

My Last Morning Coffee - part 4


And then he left without a word...
So, tonight i'll be dealing with trouble sleeping!

08.15
"Yaah... baru tahan 2 bulan jadi anak rajin, masa dah kambuh lagi. Ke salon dulu?" Sudah bisa dipastikan Pak Boy akan berkomentar begitu. "Iya maaf Pak... Kemaren abis nganter sodara dari kampung muter-muter Bandung!" jawabku sambil menatap Jay yang menyadari ucapanku tertuju padanya.

Sama sekali tidak ada yang menarik sampai akhirnya jam 2 siang, "Tim 3 mohon menyerahkan Monthly Report paling lambat jam 4 sore ini. Thanks! p.s: dalam bentuk Hard Copy."
(Aaaargh... Jay kampret! Kenapa ga dari pagi sih?!)
"Eh Vic, lu dah bikin monthly report belom? Koq ngedadak gini sih? Biasanya kan tanggal 5." tanyaku pada Vicky, rekan satu tim ku.
"Emang lu baru dikabarin hari ini? Yang laen dah dapet infonya dari hari Jum'at koq."
(What???)
Aku ketar-ketir mencari file-file 1 bulan terakhir. Pokoknya aku tidak mau terpaksa lembur dan terjebak dengan suasana canggung bersama Jay! It has to be done right away!

YM pops out:
Yola : "Neng, bonus gw dah cair nech! Lets go shopping today..... lu masih mau wedges yang waktu itu kan? "
Yola pernah menjanjikan akan membelikan ku wedges jika bonusnya sudah cair. Aduuuh aku tidak tega. Mengingat apa yang terjadi kemarin aku merasa bersalah. Tidak seharusnya aku jalan dengan Jay berdua saja. Yola sangat menyukainya....
Najma : "Asiiiiiiiik! Mau dong ceu...Tp kyaknya gw agak telat neh. Masih bikin laporan... 1/2 5an br beres kayaknya"
What can I say?

Aku masuk ke ruangan Jay dan tidak mempermasalahkan soal info laporan yang mendadak.
"Hi...udah beres? Sorry gw lupa kasih tau, jadi ngedadak."
"Ga apa2, santay aja. Si Yola ngajakin jalan. Ikut ga?" sebisa mungkin aku bersikap normal.
"Iya barusan dia BBM gw juga. Kyaknya gw skip dulu. Lembur..."
"Ok, gw dluan ya..."
"Mmm...soal semalem, gw minta maaf. I got kinda carried away... So, I'm really sorry."
"I think we should forget it, Jay. Act like nothing happened. I don't wanna hurt her... She likes you alot."
"I know... Thanks"

Yola juga membeli wedges yang sama, beda warnanya saja. It's a Girls Day Out again. Seperti dulu lagi, sebelum Jay dan Alex bergabung. Yola benar-benar royal, jadi penasaran juga.
"Gila! Lu dah tabur duit di mana-mana. Emang berapa sih bonusnya?"
"Ada dech.... Pokoknya lu ngikut aja, duduk manis, order, trus makan. Gampang kan!"

(I'm so sorry, Sissy. I'm hiding something behind your back...)

Too many awkward moments within a day.
Aku mandi lalu rebahan dan teringat dengan kantung plastik berisi DVD. Harus dikembalikan kah? Ah nanti saja setelah aku selesai menonton semuanya hahaha! Johnny Depp's Dark Shadows, my first choice.
Tapi baru 10 menit aku sudah tidak ingat apa pun.

I'm feeling much better this morning.
Mmmmm wangi kopi itu. Hey.. He's home!
"Pagi..." Hohoho dia menyapaku. I guess, he is a happier person after getting divorce.
"Pagi juga...You're back! How are you?" sambutku ramah.
"I'm great, thanks. Wanna join coffee?"
"I'd love to, but I better get going. How 'bout later, after work. Can I stop by?"
"Sure, I'll see you then..."
Wow.... he's looking good today. Rambutnya rapi, jambangnya tidak lagi berantakan, ramah lagi. Percakapan yang cukup panjang. Biasanya kan menjawab sapa ku saja tidak. I want to make friends with this guy.

Jam 4 sore aku buru-buru pulang karena sudah janjian dengan Si Bule. Di perjalanan aku tiba-tiba ingin mampir ke sebuah toko kue.
A cute tiny rainbow cake would be nice for a welcome back gift....



Selasa, 05 Juni 2012

My Last Morning Coffee - part 2

The next day.
7.30 pagi aku mengunci pintu kamar kost, memakai helm, pamit pada ibu kost and jump on my Juju (motor matic kuning kesayanganku yang ku beli dengan sisa pesangon dari tempat ku bekerja dulu, a Radio Station in Bandung. Lets skip that part shall we? :p).

There he goes again dengan secangkir kopi hitamnya. Kali ini aku mencoba menjadi tetangga yang baik dengan menyapanya “Pagi.....” Damn!! Dia bahkan tidak membalas senyum manisku yang tulus ikhlas ini dan hanya seperti biasanya melirik dengan ujung mata sayunya.

ARTEMIS Advertising Agency, my beloved new office. Setelah aku ditendang dari radio itu, tidak butuh lama untukku mendapatkan pekerjaan baru. Walaupun hanya butuh 3 bulan berpredikat pengangguran, tetap saja sebutan Miss Unemployed mambuatku uring-uringan karena malu. Bayar kost sampai ngutang dulu.
Lucky me ada sahabatku Yola yang selalu bersedia ku “ganggu” di sela- sela kesibukannya.

Juju ku parkir dengn terburu-buru hingga aku menjatuhkan helm dari kaca spion motor sebelah. Oops!
Ya, aku tahu Dago adalah jalur yang cukup sibuk, seharusnya aku berangkat lebih pagi.  Pintu lift terbuka tepat jam 8. Koridor lantai 4 sudah sangat sepi. Ini artinya semua orang sudah masuk ke ruangan kerja masing-masing.
“Pagi Najma...” Supervisor menyapaku dengan senyum multi fungsi (antara ramah dan menyindir).
“Pagi Pak Boy...” jawabku sambil sedikit berlari ke mejaku di ujung ruangan. It means i had to say hi to everyone first.
(FYI: datang terlambat adalah keahlianku yang paling menonjol, yaah at least mepeeeeet banget hehe...).
Sebuah pesan muncul di monitor ku “Tim 3 harap kumpul di ruang meeting! ASAP!”

Jay sudah presentasi selama 30 menit, Mamang OB datang membawakan 6 cangkir Cappuccino dan sekotak Pisang Bollen Kartikasari untuk seluruh tim.
“Ok, kita diskusi sambil ngopi...”  Jay mempersilahkan kami menikmati “jatah” camilan meeting pagi ini. Klien kami kali ini adalah sebuah Bank swasta nasional yang ingin membuat semacan web internal untuk kebutuhan komunikasi, informasi dan koordinasi dengan seluruh karyawannya di semua cabang. And this is my 3rd project since I joined this company 2 and a half months ago.
 “Naz..” (maksudnya Naj, tapi kedengerannya jadi Naz. Nggak apa-apa lah, sounds cool hahaha). “Elu urus content-nya ya. Koordinasi sama Pak Alex. Nanti gw kasih contact person-nya”.
Well... I got NO reason to say NO, though I know absolutely NOthing about banking. Big ZERO!

Jam 11.00, aku sudah siap menghubungi Pak Alex (Project Officer dari pihak klien) dengan belasan pointers yang harus aku tanyakan.
“Alex Pramudya, selamat siang...”
“Siang Pak Alex, saya Najma dari Artemis....” bla bla bla.
Tanpa terasa pembicaraan di telephon sudah hempir 20 menit. Alex meminta untuk diskusikan langsung sebagian besar materi di kantornya besok setelah makan siang.
Aku mendapat kesan dia itu orang yang menyenangkan, smart, not too old, and he got a sexy voice...
Tapi menurut pengalamanku bekerja di radio, suara bagus tidak selalu berbanding lurus dengan tampilan fisik si empunya suara (mostly ya..). So, lets not expect for anything now.

Saking banyaknya yang harus kukerjakan di kantor, waktu rasanya ikut berlari bersamaku. Cepat sekali! Time to go home guys. “Duluan ya semuanya...”
Wah masih setengah 5, klo pulang langsung ga asik ah.
“Whats up Neng?” suara Yola di telephon terdengar riang seperti biasanya.
“Lu balik jam brapa? Ngopi nyok...!”
“Ayo aja...Ini udah di parkiran koq. Lu masih di kantor?“
“Ho’oh, baru keluar sih. Ya udah ketemu di sana ya....”
10 menit kemudian aku sudah sampai di coffee shop favorite kami. Yola datang 5 menit kemudian. Inilah enaknya janjian dengan teman yang tempat kerjanya berdekatan. Gak perlu menunggu lama
.
Since the weather’s so hot, we both order Frozen Green Tea Latte. Ngobrol ngalor-ngidul soal pekerjaan dan tek-tek bengeknya. As always Yola punya cerita menarik seputar customer di perusahaan provider internet tempatnya bekerja saat ini, aku pun curhat seputar project  tadi plus excitement karena besok harus meeting dengan Pak Alex. Tapi kenapa harus excited ya? Memangnya kenapa? Alex kan sama saja dengan klien-klien sebelumnya. Why do I have to act silly?  What if he is not so handsome at all, what if he is an old man with 10 grand children, what if he is a freak?

Aku sudah siap berangkat jam 7 teng! Itu pun sudah termasuk memastikan semua file untuk meeting nanti lengkap di dalam tas ku. Aku memilih pakaian yang lebih rapi dari biasanya. And guess what... hari ini aku membawa beauty case (kecil sih) and Ck-be, parfum andalan semenjak SMA. “Am I Lebay? Hihihi...”

But hey! Where is that coffee freak?
Pemandangan pagi ini berkurang satu. Kemana dia? Sedang tidak di rumah? Masih tertidur? Atau sudah bosan dengan ritual kopi hitamnya? Is he oke?
“Oh my God, what am I thinking? I’m not his mother!” tegur ku pada diri sendiri. Tetangga ku mau ngopi atau tidak ya suka-suka dia lah.

Di dalam lift hanya ada aku dan Pak Boy.
“Ga salah neh? Baru setengah 8 lho, Non...”
“Yeee, Bapak gimana sih? Dateng mepet salah, dateng kepagian ditumbenin...” .
“Besok-besok mustinya kayak gini dong...”
Aku cuma bisa nyengir... hihihi :D

My  Yahoo! Messanger pops out.
Yola : udah mo setengah 12 Neng! Mendingan lu pegi skrg gih! Ntar Pak Alexnya nungguin lho...”
Wkwkwkwkwk!
Najma : iiih dodoooooL !
Yola : awas jgn malu2in! Manner! Manner!
Najma : iyaa ibu Peri!
12.30 aku sudah selesai makan siang, touch up, and ready to go!

“Silahkan tunggu di ruang meeting. Mari saya antar...”
10 menit berikutnya,

“Halo... Mbak Najma ya? Saya Alex. Waduh maaf rada telat. Ada yang harus dibereskan dulu sedikit..."


(No no no... dont be sorry.
For an angel like you, I would wait my whole life...)

My Last Morning Coffee - part 1

Pagi-pagi buta aku sudah melihatnya termenung di halaman belakang rumah berwarna ungu itu. (I swear, a cute purple house!)  “ Astaga ini kan baru jam 5 kurang 10... Cuma orang aneh yang hari Minggu jam segini udah ngopi. Yaaa kecuali klo dia baru pulang have fun and mabuk berat semalem...hihihi”. Rupanya dia menyadari ada seseorang yang melewati teritorialnya dengan menggunakan sepeda sambil bergumam tak jelas. Dia memandangku dengan ujung matanya, mengawasiku sampai aku menghilang di ujung gang.

Hari ini aku sudah ada janji dengan sahabatku untuk ikut Sepeda Santai. Awalnya I was not interested at all! Niatnya memang bukan kepingin sehat, tapi karena EO acara ini adalah rekan kerjaku di kantor plus orang yang disukai sahabatku itu. Namanya Yola, rambutnya ikal dan panjang. Tapi orang-orang lebih senang melihat dia mengikat rambutnya, macam ekor kuda. Lebih sexy katanya....

Sedangkan menurutku Yola itu terlihat smart and dazzling saat memakai office suit plus kacamatanya. Menghabiskan waktu bersama Yola di cafe setelah jam kantor meski hanya 30 menit sudah membuatku gerah. Minder! Orang-orang sering kali menatap sinis padaku, sepertinya aku ini hanya seorang bawahan yang selalu minta ditraktir oleh atasannya. (Hey!! Aku bukan bawahan dia. Sekantor pun tidak! Huuuuh.... Lagipula seingatku lebih sering aku yang mentraktirnya daripada sebaliknya.)

Aku sampai di kostan Yola jam 5.15, dan sudah ku duga dia belum selesai mandi. Dia pikir venue bisa ditempuh dengan 10 menit saja?! Seluruh peserta harus sudah berkumpul di check point panitia tepat jam 6. Hmmm menurutku dia memang berencana datang terlambat supaya tidak jadi ikut konvoy dan hanya mengobrol dengan Jay.

Perkenalkan arjuna yang satu ini memang magical magnet. Namanya Sanjaya Eko Purnama. But trust me, his name has nothing to do with his appearance. Main job-nya as a Senior Marketing di tempat ku bekerja dan memiliki usaha patungan dengan sepupunya, Rico! “Jay-Co Entertainment”. Teman-teman yang tidak suka padanya sering dengan sengaja menyebut nama lengkapnya setiap ada prospective client yang datang mencarinya. “Selamat siang, apa bisa saya ketemu Pak Jay?”. “Oh... Pak Sanjaya ya? Silahkan duduk Bu, saya panggilkan Pak Sanjaya nya”. Something like that.Sebenarnya dia bisa dikatakan tidak terlalu senior tapi karena kerjanya memuaskan dan selalu jadi Marketing Officer  teladan selama 6 bulan berturut-turut, as a reward dia mendapatkan promosi express. Jika bukan di hadapan klien atau atasan, panggilan “Sanjaya” tidak akan dia gubris. Lebih tepatnya dia akan pura-pura tidak mendengar lalu melengos pergi. Dengan percaya diri dia bahkan mencantumkan nama “Jay – Senior Marketing” di busines cardnya. So, lets just call him that way. Jay...

Yup! Kenyataannya Yola memang hanya datang untuk ngobrol dengan Jay di posko panitia. Lalu untuk apa aku repot-repot bangun pagi (way too early), dressed up like an athlete, and pinjam sepeda ke anak tetangga sebelah just to watch them acting silly in public. Sebuah mini market 24 jam di arah jam 11 sepertinya cocok untuk melarikan diri dari situasi yang tidak enak ini (awkward moment-wink wink!!).

Aku hanya membeli biskuit dan air mineral lalu duduk di teras mini market itu. Otak ku tiba-tiba mengingat apa yang kulihat sekitar 2 jam sebelumnya. Setahuku laki-laki di halaman belakang rumah ungu itu setiap hari memang selalu minum kopi sendirian. (I heard his name was Terri, Ferri or whatever..) Tapi apa mungkin dia selalu minum kopi dan memikirkan sesuatu sejak pagi-pagi buta? Apa dia hanya tinggal seorang diri di rumah itu? Normal atau agak “terganggu” ya? Ah setiap orang di negara ini kan bebas minum kopi kapan saja, jam berapa saja. Yang menggangguku sebenarnya wajahnya yang kadang terlihat seperti orang pemikir berat, kadang tatapannya kosong, kadang seperti orang yang kehilangan dan merindu setengah mati, tapi aku juga pernah melihatnya seperti orang yang sedang jatuh cinta. Like truly madly deeply in love (ini lagu apa ya..?)

If he is a lonely guy, how about his family? where are they? Is he married? What does he do for living? Can i come over? Kalau iya, apa dia akan mengusirku? As far as I can remember, aku tidak pernah melihatnya mengerjakan apa pun selain minum kopi sendirian di halaman belakang rumahnya. Dan aku yakin selalu brand kopi yang sama, every single time. Wangi kopinya seperti kopi hitam yg logonya kapal laut itu lho. (haha! believe me, I know! And don't ask why). 


Sayang sekali, sepertinya dia masih muda. Mungkin sekitar 30 something. Entah sudah berapa lama dia seperti ini. Jelas sekali dia tidak peduli dengan apa kata orang tentang dirinya. Rambut gondrong, kumis dan jambangnya berantakan. Seharusnya dia keluar rumah dan menikmati hidup. Definitely none of my busines! But....well, i’m just.... yeah, curious.