Selasa, 05 Juni 2012

My Last Morning Coffee - part 1

Pagi-pagi buta aku sudah melihatnya termenung di halaman belakang rumah berwarna ungu itu. (I swear, a cute purple house!)  “ Astaga ini kan baru jam 5 kurang 10... Cuma orang aneh yang hari Minggu jam segini udah ngopi. Yaaa kecuali klo dia baru pulang have fun and mabuk berat semalem...hihihi”. Rupanya dia menyadari ada seseorang yang melewati teritorialnya dengan menggunakan sepeda sambil bergumam tak jelas. Dia memandangku dengan ujung matanya, mengawasiku sampai aku menghilang di ujung gang.

Hari ini aku sudah ada janji dengan sahabatku untuk ikut Sepeda Santai. Awalnya I was not interested at all! Niatnya memang bukan kepingin sehat, tapi karena EO acara ini adalah rekan kerjaku di kantor plus orang yang disukai sahabatku itu. Namanya Yola, rambutnya ikal dan panjang. Tapi orang-orang lebih senang melihat dia mengikat rambutnya, macam ekor kuda. Lebih sexy katanya....

Sedangkan menurutku Yola itu terlihat smart and dazzling saat memakai office suit plus kacamatanya. Menghabiskan waktu bersama Yola di cafe setelah jam kantor meski hanya 30 menit sudah membuatku gerah. Minder! Orang-orang sering kali menatap sinis padaku, sepertinya aku ini hanya seorang bawahan yang selalu minta ditraktir oleh atasannya. (Hey!! Aku bukan bawahan dia. Sekantor pun tidak! Huuuuh.... Lagipula seingatku lebih sering aku yang mentraktirnya daripada sebaliknya.)

Aku sampai di kostan Yola jam 5.15, dan sudah ku duga dia belum selesai mandi. Dia pikir venue bisa ditempuh dengan 10 menit saja?! Seluruh peserta harus sudah berkumpul di check point panitia tepat jam 6. Hmmm menurutku dia memang berencana datang terlambat supaya tidak jadi ikut konvoy dan hanya mengobrol dengan Jay.

Perkenalkan arjuna yang satu ini memang magical magnet. Namanya Sanjaya Eko Purnama. But trust me, his name has nothing to do with his appearance. Main job-nya as a Senior Marketing di tempat ku bekerja dan memiliki usaha patungan dengan sepupunya, Rico! “Jay-Co Entertainment”. Teman-teman yang tidak suka padanya sering dengan sengaja menyebut nama lengkapnya setiap ada prospective client yang datang mencarinya. “Selamat siang, apa bisa saya ketemu Pak Jay?”. “Oh... Pak Sanjaya ya? Silahkan duduk Bu, saya panggilkan Pak Sanjaya nya”. Something like that.Sebenarnya dia bisa dikatakan tidak terlalu senior tapi karena kerjanya memuaskan dan selalu jadi Marketing Officer  teladan selama 6 bulan berturut-turut, as a reward dia mendapatkan promosi express. Jika bukan di hadapan klien atau atasan, panggilan “Sanjaya” tidak akan dia gubris. Lebih tepatnya dia akan pura-pura tidak mendengar lalu melengos pergi. Dengan percaya diri dia bahkan mencantumkan nama “Jay – Senior Marketing” di busines cardnya. So, lets just call him that way. Jay...

Yup! Kenyataannya Yola memang hanya datang untuk ngobrol dengan Jay di posko panitia. Lalu untuk apa aku repot-repot bangun pagi (way too early), dressed up like an athlete, and pinjam sepeda ke anak tetangga sebelah just to watch them acting silly in public. Sebuah mini market 24 jam di arah jam 11 sepertinya cocok untuk melarikan diri dari situasi yang tidak enak ini (awkward moment-wink wink!!).

Aku hanya membeli biskuit dan air mineral lalu duduk di teras mini market itu. Otak ku tiba-tiba mengingat apa yang kulihat sekitar 2 jam sebelumnya. Setahuku laki-laki di halaman belakang rumah ungu itu setiap hari memang selalu minum kopi sendirian. (I heard his name was Terri, Ferri or whatever..) Tapi apa mungkin dia selalu minum kopi dan memikirkan sesuatu sejak pagi-pagi buta? Apa dia hanya tinggal seorang diri di rumah itu? Normal atau agak “terganggu” ya? Ah setiap orang di negara ini kan bebas minum kopi kapan saja, jam berapa saja. Yang menggangguku sebenarnya wajahnya yang kadang terlihat seperti orang pemikir berat, kadang tatapannya kosong, kadang seperti orang yang kehilangan dan merindu setengah mati, tapi aku juga pernah melihatnya seperti orang yang sedang jatuh cinta. Like truly madly deeply in love (ini lagu apa ya..?)

If he is a lonely guy, how about his family? where are they? Is he married? What does he do for living? Can i come over? Kalau iya, apa dia akan mengusirku? As far as I can remember, aku tidak pernah melihatnya mengerjakan apa pun selain minum kopi sendirian di halaman belakang rumahnya. Dan aku yakin selalu brand kopi yang sama, every single time. Wangi kopinya seperti kopi hitam yg logonya kapal laut itu lho. (haha! believe me, I know! And don't ask why). 


Sayang sekali, sepertinya dia masih muda. Mungkin sekitar 30 something. Entah sudah berapa lama dia seperti ini. Jelas sekali dia tidak peduli dengan apa kata orang tentang dirinya. Rambut gondrong, kumis dan jambangnya berantakan. Seharusnya dia keluar rumah dan menikmati hidup. Definitely none of my busines! But....well, i’m just.... yeah, curious.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar