Hah!!! Boris??!!
Kost di sini? Boris Stand Up Comedy itu kan?
No! Yaah.. mirip
sedikit, tapi bukan. Ini Rega asal Medan juga tapi sudah hampir 5 tahun di
Bandung. Makanya aku kira Si Boris. Tapi yang ini 3 kali lipat lebih oke dan tanpa handuk di pundaknya macam sopir angkot 09 hehehe.
Rega adalah mahasiswa S2 jurusan Teknik
Industri di salah satu kampus besar di sini. Siang bekerja office hour dan
mengambil kelas karyawan di malam hari. Saking fokusnya dengan urusan
terjemahan, sampai ga sadar ada orang pindahan 3 hari lalu. Padahal kamar
kost-nya tepat di lantai atas sebrang kamarku. Jadi aku bisa memperhatikannya
dengan leluasa dari balik jendela.
Duuuh... kenapa baru pindah sekarang? Hehehe....
After 10 months,
this place is finally getting interesting...
3 weeks later we
both get along together. Saling berkunjung ke kamar masing-masing, kalau air
galon di kamarnya habis dia pasti minta padaku, begitu pun sebaliknya jika
modem ku habis pulsa aku bisa leluasa numpang nge-net di laptopnya. Malam
minggu ini pun sama, dia “konser” dengan solo gitar punyaku yang akhirnya
mengundang anak-anak yang lain berkerumun di kamarku. Sudah pasti hanya
orang-orang tak laku yang ikutan. Yang punya pasangan semua jalan dengan pacar
masing-masing.
Berkumpul di
kamarku jadi acara rutin malam mingguan. Kalau sedang fit dan masih banyak duit
sih ga masalah, tapi kali ini aku bokek!
“Heh... kalo mo
pada ngopi bawa masing-masing! Gw lagi gembel berat!”
“Iya nech... Pada
ga tau malu! Sana beli cemilan sekalian! Nih duitnya, klo kurang tambahin!”
Rega membelaku. Dia mengeluarkan uang 100 ribu dari dompetnya sambil menyuruh
yang lain belanja di mini market tak jauh dari sini. Yang disuruh malah girang.
“Aseeek... oke
bang! Ini mah lebih dari cukup...”
The next morning,
Aga mampir. Dia disuruh ibuku mengantarkan marmer cake favoritku. Ah..
senangnya... Mama tau aja anaknya lagi ga punya duit. Hanya 15 menit, Aga pun
pulang. Aku mengantarnya sampai pagar. Tiba-tiba Rega sudah berdiri di
belakangku dengan 2 gelas kopi.
“For me?”
“Yes dear, it’s
yours. Will... yang barusan cowok lu?”
“Bukan... Itu
Aga. Sepupu.”
Rega mengikutiku
kembali ke kamar. Selanjutnya kami minum kopi sambil menikmati cake.
To be honest,
it’s a bit awkward. It’s nice to have a companion, but... Bukankah ini sudah
terlalu lama? Well, I like this guy, tapi kan... Kenapa betah sekali
berlama-lama di sini? Almost 3 hours! Aku sudah salah tingkah. Mondar-mandir ga
karuan.
Usir ato jangan ya..?
Eh dia malah
mengambil gitar dan main 1 lagu.
“The Man Who
Can’t Be Moved”-nya The Script.
Damn!
Akhirnya Rega
pergi juga. Kalau tidak ada teman yang mengajak hang out, mungkin akan tidur lagi saja katanya.
Baru ingat, hari
ini aku belum buka mail box sama sekali. Ah... right on time. Paymentku sudah
cair...thank God! Jam 1 siang, aku mandi lalu ke ATM. Berikutnya ke super
market. Biasalah perempuan, urusan belanja rada kalap. Mulai dari shampo,
sabun, pembalut, stok kopi, mie instant, kosmetik, baju diskonan, etc, etc...
Mumpung ada. Bulan depan belum tentu bisa. Bukankah membahagiakan diri sendiri
pun termasuk ibadah?
Shopping adalah
aktivitas yang menguras tenaga. Ya capek. Ya laper... Seharian ini yang masuk
ke perut cuma kopi dan dua potong cake. Japanese fast food resto is a good
idea. Aku makan dengan satu tangan memegang sumpit dan yang lainnya memegang
struk belanja. Siiip! Ga lebih dari 400 ribu. Masih make sense hehehe...
Aku melihat ada
anak perempuan berlari kecil masuk ke resto yang sama. Umurnya mungkin sekitar
3 atau 4 tahun. Cantik.... Rambutnya ikal. Ayah dan ibunya masuk belakangan. Sepertinya
pasangan muda. Pantas anaknya cantik, pasti bawa gen ibunya. Tapi ayahnya....
Ayahnya....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar