Rabu, 11 Juli 2012

It’s Gonna Rain... (part 5)


Setelah berputar-putar tanpa tujuan yang jelas...
Senin malam, kawasan Setiabudi tetap tidak pernah sepi.
“Sea food resto di sini lumayan juga”
Rega menerima saranku dengan sukarela. Selesai makan cumi asam manis dan teman-temannya, kami tidak berlama-lama. Asap dari pembakaran di tempat ini membuatku tak nyaman. Coffee shop di daerah Sulandjana lebih asik untuk melanjutkan obrolan.
And for the first time, aku benar-benar merasa diperlakukan sebagai perempuan seutuhnya. Ketika seorang laki-laki berbincang dan tertawa bersamamu dengan penuh hormat, hatimu akan tahu. Yeah... ini bukan malam yang romastis. Not even close! But...
I’m falling...
So deep into you...
10.15 pm, Sudah waktunya pulang.
Memang tidak ada jam malam. Tapi aku cukup tahu diri.

Hey... its raining tonight.
Aku nyalakan radionya.... Beyonce feat. Stevie Wonder.
And the song goes...
"love has truly been good to me
not even one sad day ....
since you've come away
I hope you know I'd gladly go anywhere you'd take me ...
... what a wonderful day
it’s so amazing to be loved
I’d follow you to the moon in the sky above"


Too bad, perjalanan terlalu singkat.
I don’t want this to end so fast...



Good morning sunshine!
Good morning Love...

Weeks go by... everything’s so fine. Wonderful in fact.
Aku kembali sibuk dengan urusan terjemahan. Ini artinya keuanganku akan baik-baik saja. At least sampai beberapa bulan ke depan. Aku pun masih bisa meluangkan waktu menjenguk Mama dan adik-adik. Rasaku pada si cowok Batak itu pun semakin bertumbuh dengan baik. Kadang aku ikut membantu Jerson dan Melanie saat diminta menerjemahkan kepada warga setempat jika NGO Team-nya sedang ada acara penyuluhan seputar kesehatan. Bahagia rasanya bisa berguna untuk orang lain. Apalagi sebenarnya ini kan untuk kepentingan saudara sebangsaku sendiri. Orang luar lebih peduli nampaknya. Kenapa kita tidak? Bikin malu saja!


Pagi ini aku sedang memata-matai Rega dari jendela kamarku. Dia sedang bersiap-siap berangkat kerja. Kemarin aku terpaksa menolak ajakannya untuk pergi jalan seperti biasa. Alasanku cukup kuat. Aku sudah lebih dulu janji dengan Jerson menemaninya survey ke beberapa kantor Kelurahan di Bandung Selatan. Ibuku kenal baik dengan beberapa orang disana. Teman ibuku kebanyakan adalah ibu-ibu pengurus PKK. So why not?
Rupanya Rega kecewa.
I’m sorry... It’s cool to be spontaneous. Tapi untuk situasi tertentu kadang kita harus buat janji dulu. 
Bahkan dengan pasangan, bahkan dengan anak sendiri.

Semakin lama aku menyadari ada yang berubah. Pulang kerja bukannya lanjut ke kampusnya, malah menjemputku untuk sekedar ngopi-ngopi, nonton, atau cuma putar-putar Bandung dan jajan cemilan di pinggir jalan. Well... aku sih happy-happy saja. Tapi bukankah gelar Magister Teknik sangat dia inginkan?

One day, Rega benar-benar dingin padaku. Seolah aku dianggap tak ada. Jelas-jelas aku dengar dia masuk ke kamar Lily yang kost persis di sebelah kamarku karena pintuku setengah terbuka. Dia bilang modemnya habis pulsa, so dia numpang kirim e-mail. Pinjam ini, tolong bantuin itu, selalu Lily. Aku tahu dia sengaja membuatku naik darah. Sudah 3 hari BBM ku tidak dibalas, telephon tidak diangkat, SMS, YM  semua tak ada respon.

Mumpung masalahnya masih “hangat”, aku naik ke kamarnya.
“Hey... masih ngambek? I said I’m sorry...”
Aku berusaha bicara dengan nada sehalus mungkin. Tapi tidak ada reaksi. Dia mengunci pintu lalu berjalan menuruni tangga. Aku mengikutinya.
“I’m not a ghost, Rega. Talk to me...”
“Ngomongnya Indonesia aja lah Will! Kalo mo ngomong English, sama dia!” jawabnya ketus sambil melempar pandangan sinis ke arah kamar Jerson.
“Lu jealous?”
“Emang gw ga berhak?!”


Melegakan? Ya...
But you can’t put the blame on me. Selama ini aku dibiarkan menebak-nebak dimana dia memposisikan aku dalam hatinya...
Cukup berhak kah aku untuk memberi label 
“I’m yours and you’re mine”?
Tolong diingat, perempuan butuh kejelasan. Sampai kapan pun akan selalu begitu.
I need to know...
So, say something! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar