Setelah
berputar-putar tanpa tujuan yang jelas...
Senin
malam, kawasan Setiabudi tetap tidak pernah sepi.
“Sea
food resto di sini lumayan juga”
Rega
menerima saranku dengan sukarela. Selesai makan cumi asam manis dan
teman-temannya, kami tidak berlama-lama. Asap dari pembakaran di tempat ini
membuatku tak nyaman. Coffee shop di daerah Sulandjana lebih asik untuk
melanjutkan obrolan.
And
for the first time, aku benar-benar merasa diperlakukan sebagai perempuan
seutuhnya. Ketika seorang laki-laki berbincang dan tertawa bersamamu dengan
penuh hormat, hatimu akan tahu. Yeah... ini bukan malam yang romastis. Not even
close! But...
I’m falling...
So deep into you...
10.15
pm, Sudah waktunya pulang.
Memang
tidak ada jam malam. Tapi aku cukup tahu diri.
Hey...
its raining tonight.
Aku
nyalakan radionya.... Beyonce feat. Stevie Wonder.
And
the song goes...
"love has truly been good to me
not even one sad day ....
since you've come away
I hope you know I'd gladly go anywhere you'd take me ...
...
what a wonderful day
it’s
so amazing to be loved
I’d
follow you to the moon in the sky above"
Too
bad, perjalanan terlalu singkat.
I don’t want this
to end so fast...
Good
morning sunshine!
Good morning
Love...
Weeks
go by... everything’s so fine. Wonderful in fact.
Aku
kembali sibuk dengan urusan terjemahan. Ini artinya keuanganku akan baik-baik
saja. At least sampai beberapa bulan ke depan. Aku pun masih bisa meluangkan
waktu menjenguk Mama dan adik-adik. Rasaku pada si cowok Batak itu pun semakin
bertumbuh dengan baik. Kadang aku ikut membantu Jerson dan Melanie saat diminta
menerjemahkan kepada warga setempat jika NGO Team-nya sedang ada acara
penyuluhan seputar kesehatan. Bahagia rasanya bisa berguna untuk orang lain. Apalagi
sebenarnya ini kan untuk kepentingan saudara sebangsaku sendiri. Orang luar
lebih peduli nampaknya. Kenapa kita tidak? Bikin malu saja!
Pagi
ini aku sedang memata-matai Rega dari jendela kamarku. Dia sedang bersiap-siap
berangkat kerja. Kemarin aku terpaksa menolak ajakannya untuk pergi jalan
seperti biasa. Alasanku cukup kuat. Aku sudah lebih dulu janji dengan Jerson
menemaninya survey ke beberapa kantor Kelurahan di Bandung Selatan. Ibuku kenal
baik dengan beberapa orang disana. Teman ibuku kebanyakan adalah ibu-ibu
pengurus PKK. So why not?
Rupanya
Rega kecewa.
I’m
sorry... It’s cool to be spontaneous. Tapi untuk situasi tertentu kadang kita
harus buat janji dulu.
Bahkan dengan pasangan, bahkan dengan anak sendiri.
Semakin
lama aku menyadari ada yang berubah. Pulang kerja bukannya lanjut ke kampusnya,
malah menjemputku untuk sekedar ngopi-ngopi, nonton, atau cuma putar-putar
Bandung dan jajan cemilan di pinggir jalan. Well... aku sih happy-happy saja. Tapi
bukankah gelar Magister Teknik sangat dia inginkan?
One
day, Rega benar-benar dingin padaku. Seolah aku dianggap tak ada. Jelas-jelas
aku dengar dia masuk ke kamar Lily yang kost persis di sebelah kamarku karena
pintuku setengah terbuka. Dia bilang modemnya habis pulsa, so dia numpang kirim
e-mail. Pinjam ini, tolong bantuin itu, selalu Lily. Aku tahu dia sengaja
membuatku naik darah. Sudah 3 hari BBM ku tidak dibalas, telephon tidak
diangkat, SMS, YM semua tak ada respon.
Mumpung
masalahnya masih “hangat”, aku naik ke kamarnya.
“Hey...
masih ngambek? I said I’m sorry...”
Aku
berusaha bicara dengan nada sehalus mungkin. Tapi tidak ada reaksi. Dia mengunci
pintu lalu berjalan menuruni tangga. Aku mengikutinya.
“I’m
not a ghost, Rega. Talk to me...”
“Ngomongnya
Indonesia aja lah Will! Kalo mo ngomong English, sama dia!” jawabnya ketus
sambil melempar pandangan sinis ke arah kamar Jerson.
“Lu
jealous?”
“Emang
gw ga berhak?!”

Melegakan? Ya...
But you can’t
put the blame on me.
Selama ini aku dibiarkan menebak-nebak dimana dia memposisikan aku dalam
hatinya...
Cukup
berhak kah aku untuk memberi label
“I’m yours and you’re mine”?
Tolong
diingat, perempuan butuh kejelasan. Sampai kapan pun akan selalu begitu.
I need to
know...
So, say something!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar