Kamis, 12 Juli 2012

It’s Gonna Rain... (part 6)





I bruise you
You bruise me
We both bruise so easily
Too easily to let it show
“I love you”
Thats all I (need to) know


Hampir satu minggu kecanggungan ini menyiksaku. saat berpapasan di bawah tangga, atau waktu tak sengaja bertubrukan di taman belakang, I tried so hard not to touch your back and hold you thight. Tidak sadarkah aku pun marah? Marah karena kesal menunggu. I’ve been waiting for those words to come out of your mouth...

Melanie harus pulang lebih dulu ke Chicago, Illiois. Ada masalah dengan Pass Port-nya.
“Watch my brother for me, will ya?” pintanya bercanda padaku saat pamit.
“No problem, Mel...” kami pun tertawa.

Karena itu aku jadi lebih sering menghabiskan waktu dengan Jerson. Membantunya sebisaku, atau sekedar menemaninya ngobrol di teras sambil minum teh. Orang asing rata-rata tidak biasa minum kopi malam hari, kecuali jika benar-benar harus bergadang. Kadang dia memintaku menemaninya “ngaffe” atau ngongkrong di sebuah beer house.
I think about Rega all the time though...
Damn! I miss him...


Saturday night, 7 pm.
Aku berdandan rapi, cantik, dan wangi (hihihi...) tapi tidak berlebihan juga. Dress selutut berwarna abu, wedges hitam, dan khusus malam ini aku membiarkan rambutku tergerai. Aku ada janji dinner dengan Jerson. Setelah meeting dia bilang akan langsung menunggu di sebuah Italian resto di kawasan Dago Atas. Seperti kebanyakan orang, dia ingin menunjukan rasa terimakasih padaku dengan mentraktir makan malam. Dia bilang aku sudah banyak membantu.


Ketika aku turun dari taksi, hujan turun rintik-rintik dan mulai membesar begitu aku masuk ke dalam restoran. Huffft... untung saja.

Aku lihat Jerson melambaikan tangannya di meja dekat tangga. Dia menarik kursi untukku. Hmm... Such a gentleman huh? Baru saja aku mendekat, tanganku ditarik dari arah belakang. Dingin tangannya menjalar sampai ke hati.
Why now?
Are you following me?


“Sorry, buddy... She’s taken!”
Dia terlihat begitu puas. Seperti anak kecil yang merasa menang karena baru saja merampas mainan temannya yang paling dia benci. Aku diseretnya keluar tanpa tahu harus bicara apa. Harus senang atau kesal... entahlah! Jerson juga hanya bisa berdiri terheran-heran. Semoga  dia tidak tersinggung. I’ll apologize later.

But No! He’s not taking me to his car to get me home. Dia membawaku ke pelataran parkir sebuah toko yang sudah tutup, agak jauh dari kerumunan orang yang sedang berteduh. Mulutku membusa. Protes karena dia datang tiba-tiba dan merusak acara. Terlebih lagi karena dia membuat baju yang bahkan belum genap dua jam kupakai ini basah kuyup. But most of all, dia membuatku malu di depan Jerson dan semua orang yang ada di restoran itu.
And then ...

... then I guess a kiss means more than a thousand words.




One more time, rain brought you into my arms closer... and closer.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar