Selasa, 17 Juli 2012

It’s Gonna Rain... (part 9)


Here I am, spending the whole day hating my self...
I can easily say that it was just a kiss. And a kiss only. Well, pretty wild actually.
But that was it! Didn’t mean anything!
I used to curse those who betray, those who cheat...
And now I’ve become one of them.

Ini salah.
Sebelum tambah salah sebaiknya aku tinggal di rumah Mama sampai Rega pulang.

Days turned into weeks...
Garuda Indonesia yang berangkat dari Stockholm diperkirakan sampai di Soeta-Tangerang jam 1.15 siang ini. Aku minta Aga menemaniku. Jika nanti Rega bertanya apa aku baik-baik saja? Apa saja yang kukerjakan selama dia tak ada? Aku hanya perlu bilang semua berjalan seperti biasanya. Tidak ada yang aneh. Kerjaku adalah merindukannya sepanjang waktu.
Nothing to worry about, really.
A little white lie for a greater good.
Semoga dia tidak lupa pesananku. A silver necklace from Zanzloza Zmycken, a famous jewel store in Stockholm. Kalau kemahalan, diganti yang lain juga nggak masalah.

Arrival gate...
I can no longer wait to see him again.
Aduuh... rambutku berantakan. Lipgloss-nya kurang.
“Santay atuh Will. Tenang... Tenang!”
Iya, memang cuma nervous. Tapi masih ada waktu untuk touch-up sedikit.
“Willa ka toilet heula nya. Bentar aja. Kalo dah landing, kasih tau!”
“Euh! Nya jig atuh. Cepetan!”

Sebenarnya Rega sudah sering melihat muka ku polos tanpa make-up. Jauh lebih ancur dari ini. But it’s not an ordinary day, remember? So.... Harus cantik! Harus cantik!
Missed call dari Aga!

This is it... He’s home!

Aku berlari kecil, memastikan tidak terlambat menyambutnya pulang.
Sebuah pesawat sedang dalam proses pendaratan di run way.
Something’s definitely wrong!
Pesawatnya melenceng ke arah kiri, lalu BLARRR!!!!
Ledakan besar pun terjadi karena tabrakan dengan pesawat lain yang sedang dalam kondisi terparkir.



Jeritan dan teriakan panik pun sontak terdengar. Kaki ku lemas, dan aku tersungkur di antara kerumunan manusia yang sedang kalap. Saling dorong, saling jegal. Semua orang ingin memastikan apa yang sesungguhnya terjadi. Apa suaminya baik-baik saja? Apa temannya terluka? Apa kekasihnya selamat? Seseorang menginjak tanganku. Aku tidak peduli. Aga pun entah di mana. It’s too crowded in here.
Rega...
I can only hope that my man is alright. He’s gonna be with me in a minute.

2 hours later....
Situasi sudah lebih tenang. Aga terus meyakinkanku bahwa Rega selamat. Wartawan sudah banyak yang berdatangan untuk meliput press conference. Perwakilan tim medis, petugas bandara, dan seorang pejabat Dinas Perhubungan menyatakan bahwa kecelakaan terjadi akibat kerusakan teknis.

“... Roda pesawat tidak berfungsi dengan sempurna beberapa saat sebelum pendaratan. Sejauh ini sudah bisa dipastikan bahwa 5 penumpang tewas, 13 orang luka parah, 24 orang luka ringan, 41 orang selamat. Daftar selengkapnya akan segara kami rilis 30 menit setelah konferensi pers ini. Mohon tenang dan tetap tertib....”

AFREGA PANDJAITAN
Nama itu terpampang di urutan paling atas daftar korban tewas!

No way...
They made a mistake!
They put his name on the wrong list!
Right...?

This is just a sick joke.
Rega’s gonna run to me saying “Surprise!!!”
Come on ...
Where are you?
It’s not fun anymore....

Aku menatap Aga, berharap dia mau minta petugas medis atau siapa saja untuk mengulang identifikasi sekali lagi. Aga hanya menggelengkan kepala lalu membiarkan aku menangis di pelukannya.



I'm gonna open my eyes
and see for the first time
I let go of you like a child letting go of his kite...
there it goes up in the sky....
there it goes beyond the clouds...
and I can't cry hard enough
for you to hear me now




Tidak ada komentar:

Posting Komentar