Jumat, 13 Juli 2012

It’s Gonna Rain... (part 7)


Musim hujan kali ini adalah musim cinta untukku
The season of Love.....

Beberapa riset membuktikan bahwa suasana hati berpengaruh besar pada kondisi kesehatan fisik manusia. Tabloid, majalah, dan portal-portal web khusus perempuan (mostly) sering memuat artikel dengan judul-judul “Pelukan Yang Tulus Bisa Memperpanjang Usia”, “Sebuah Ciuman di Pagi Hari Dapat Menambah Kekebalan Tubuh”, “Jika Ingin Panjang Umur, Bercintalah” dan semacamnya (hahaha...)
Intinya hal-hal positif dan perasaan bahagia akan memancarkan sinyal pada otak  bahwa everything’s wonderful, lalu otak memberi perintah pada setiap bagian tubuh untuk tetap sehat. Yah, kurang lebih begitu.
Tidak ada lagi gatal-gatal karena kedinginan, bahkan jika sedang cengderung panas aku tidak mimisan. 
His loving makes me great and healthy.
Thank you ....

But wait... setiap sisi kehidupan pasti diciptakan berpasangan. This exietement only last for a month. 
Rega harus pergi sebentar. Perusahaan mengirimnya untuk ikut training di Swedia selama 3 bulan. 
Setengah hati aku “mengizinkannya”. Semata-mata demi masa depan. Masa depannya. 
Bersamaku atau tidak. 
Kalau dia sukses, aku akan bangga. Yang aku tidak suka, kenapa mendadak sih? 2 hari lagi dia harus berangkat. Segala sesuatunya sudah dipersiapkan kantor. So, tinggal persiapan yang sifatnya pribadi saja.

I’m gonna be missing him alot. Dan malam ini hanya tersisa 3 jam. Aku membantunya berkemas.
“Jalan yuk....” katanya persis setelah aku selesai menutup koper.
Karena hatiku tahu akan terpisah jauh dengan cintanya, setiap detik harus berarti. Dia mengajakku ke satu tempat makan yang belum pernah ku datangi bersamanya. Jangan tawari aku makan. ‘Ngga nafsu!
I don’t want anything else but you...
I want you here with me just a little bit longer.
Aku mau memandanginya sampai puas. Sampai aku hafal setiap garis, setiap kerut di wajahnya.
Kenapa lama-lama jadi mirip Chef Juna ya...
Ah ngaco!

11.45 pm.
Next thing I know, we are sitting side by side at the back yard. Staring at the sky.
It’s a clear night, my love.
So quiet...
But every beat telling what my heart feels louder than a scream.


“Will...”
Oh God! I hate this part.
“Aku titip mobil ya... kalo mo nengok Mama, pake aja.”
“Oke ”
 “Mmm... itu pohon melon kita kan?”
Dia sedang mengalihkan pembicaraan.
Saying good bye was never an easy thing.

Tempo hari Rega membawakan melon untukku. Tidak terlalu besar, tapi manis. 
Kami memakannya berdua saja di teras belakang. 
Dia melemparkan beberapa biji melon itu ke taman ibu Kost. 
Siapa tau jadi... katanya. Tak disangka benar-benar tumbuh. 
Bunganya sudah mulai muncul, kelak akan jadi buah. 
Anytime soon... And he’s leaving tomorrow.

It’s midnight already. Sebaiknya cepat tidur. Besok perjalanan akan sangat panjang dan melelahkan.
Aku menarik tubuhnya, memeluknya begitu erat.
Kalau tidak ku lepas, boleh kan?
“I’ll be back here before you know it...” bisiknya di telingaku.

I drive him to the office this morning. Rega akan berangkat bersama 3 orang rekannya dengan mobil perusahaan, jadi aku tidak perlu mengantarnya sampai air port. 
A kiss on the lips and a big hug for my baby.
“Be good and come home in one piece, alright...”
“I will...”
I thought I was strong enough, ‘till I saw him waving at me.
Bye...

Lalu APV hitam itu pun menghilang tak lama setelah masuk pintu tol. 
Aku putar arah kembali pulang dengan hati gerimis.
I’m going home and sleep all day. 
Berharap saat terbangun nanti, 3 bulan terlewati, dan Rega sudah di sini bersamaku lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar