The
season of Love.....
Beberapa
riset membuktikan bahwa suasana hati berpengaruh besar pada kondisi kesehatan
fisik manusia. Tabloid, majalah, dan portal-portal web khusus perempuan (mostly) sering
memuat artikel dengan judul-judul “Pelukan Yang Tulus Bisa Memperpanjang Usia”,
“Sebuah Ciuman di Pagi Hari Dapat Menambah Kekebalan Tubuh”, “Jika Ingin
Panjang Umur, Bercintalah” dan semacamnya (hahaha...)
Intinya
hal-hal positif dan perasaan bahagia akan memancarkan sinyal pada otak bahwa everything’s wonderful, lalu otak
memberi perintah pada setiap bagian tubuh untuk tetap sehat. Yah, kurang lebih
begitu.
Tidak
ada lagi gatal-gatal karena kedinginan, bahkan jika sedang cengderung panas aku
tidak mimisan.
His loving makes me great and healthy.
Thank you ....
But
wait... setiap sisi kehidupan pasti diciptakan berpasangan. This exietement
only last for a month.
Rega harus pergi sebentar. Perusahaan mengirimnya untuk
ikut training di Swedia selama 3 bulan.
Setengah hati aku “mengizinkannya”. Semata-mata
demi masa depan. Masa depannya.
Bersamaku atau tidak.
Kalau dia sukses, aku
akan bangga. Yang aku tidak suka, kenapa mendadak sih? 2 hari lagi dia harus
berangkat. Segala sesuatunya sudah dipersiapkan kantor. So, tinggal
persiapan yang sifatnya pribadi saja.
I’m
gonna be missing him alot. Dan malam ini hanya tersisa 3 jam. Aku membantunya
berkemas.
“Jalan
yuk....” katanya persis setelah aku selesai menutup koper.
Karena
hatiku tahu akan terpisah jauh dengan cintanya, setiap detik harus berarti. Dia
mengajakku ke satu tempat makan yang belum pernah ku datangi bersamanya. Jangan
tawari aku makan. ‘Ngga nafsu!
I don’t want
anything else but you...
I want you here
with me just a little bit longer.
Aku
mau memandanginya sampai puas. Sampai aku hafal setiap garis, setiap kerut di
wajahnya.
Kenapa lama-lama
jadi mirip Chef Juna ya...
Ah
ngaco!
11.45
pm.
Next
thing I know, we are sitting side by side at the back yard. Staring at the sky.
It’s
a clear night, my love.
So
quiet...
But
every beat telling what my heart feels louder than a scream.
“Will...”
Oh God! I hate
this part.
“Aku
titip mobil ya... kalo mo nengok Mama, pake aja.”
“Oke
”
“Mmm... itu pohon melon kita kan?”
Dia
sedang mengalihkan pembicaraan.
Saying
good bye was never an easy thing.
Tempo
hari Rega membawakan melon untukku. Tidak terlalu besar, tapi manis.
Kami memakannya
berdua saja di teras belakang.
Dia melemparkan beberapa biji melon itu ke taman
ibu Kost.
Siapa tau jadi... katanya. Tak disangka benar-benar tumbuh.
Bunganya sudah
mulai muncul, kelak akan jadi buah.
Anytime soon... And he’s leaving tomorrow.
It’s
midnight already. Sebaiknya cepat tidur. Besok perjalanan akan sangat panjang
dan melelahkan.
Aku menarik tubuhnya, memeluknya begitu erat.
Kalau tidak ku
lepas, boleh kan?
“I’ll
be back here before you know it...” bisiknya di telingaku.
I
drive him to the office this morning. Rega akan berangkat bersama 3 orang
rekannya dengan mobil perusahaan, jadi aku tidak perlu mengantarnya sampai air
port.
A kiss on the lips and a big hug for my baby.
“Be
good and come home in one piece, alright...”
“I
will...”
Bye...
Lalu
APV hitam itu pun menghilang tak lama setelah masuk pintu tol.
Aku putar arah kembali
pulang dengan hati gerimis.
I’m
going home and sleep all day.
Berharap saat terbangun nanti, 3 bulan terlewati,
dan Rega sudah di sini bersamaku lagi.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar