Minggu, 15 Juli 2012

It’s Gonna Rain... (part 8)



Bawalah pergi cintaku
Ajak ke mana pun kau mau
Jadikan temanmu
Temanmu paling kau cinta
Di sini ku pun begitu
Trus cintaimu di hidupku
Di dalam hatiku
Sampai waktu yang pertemukan kita nanti...

Belum 24 jam saja aku sudah secemas ini. Huhhf...

But thank God akhirnya Rega mengabariku juga. Dia sudah sampai dengan selamat. Telephon pertama, tidak bisa ngobrol banyak karena dia sudah ditunggu briefing. Selama di negara Eropa Utara penghasil Volvo, Ericsson, dan SHARP Electronics (Nordic) itu dia akan tinggal di sebuah asrama di Malmo City, kota industri di pinggiran selat Oresund yang memisahkan Swedia dengan Denmark.

Berikutnya aku harus membiasakan diri pacaran jarak jauh. Oooh begini ya rasanya... “Ngga puguh!” Perbedaan 5 jam membuatku harus menyesuaikan waktu jika ingin melepas kangen. Sekedar telephon atau skyping sudah lumayan. Itupun tak bisa lama-lama. Yaah, apa boleh buat.

After lunch aku asik skyping denganya sambil memanen melon di teras belakang. Berlaga seperti reporter program kuliner yang meyakinkan permisanya bahwa melon ini adalah kualitas nomor wahid. Fresh and sweet! Sangat persuasif! Hahaha...
Aku lihat Rega sedang sarapan setangkup roti sambil tertawa geli melihat tingkahku.
Of course, it’s 7.30 in the morning, Sweden time.

It’s been 8 weeks now.... And this long distance is killing me. Rega bilang dia makin sibuk. So tidak bisa tiap hari menghubungiku. But I don’t work much lately. Aku juga tidak punya banyak teman. Rasanya semakin hari semakin membosankan. Situasi ini membuatku meradang.
“Sabar ya. Sebulan lagi, babe...”
Oke, I’ll wait then...

Setelah itu komunikasi malah bertambah jarang. Alasannya ada semacam ujian simulasi teknologi smart TV set terbaru. Dia harus amat sangat fokus. Peserta training tidak hanya dari cabang di Indonesia, tapi juga beberapa tim utusan dari negara lain. Tim yang mendapatkan nilai sempurna, hasilnya akan dipatenkan dan diterapkan di semua cabang, all around the world! Satu langkah besar untuk dapat promosi kilat. Mestinya aku mengerti. Tidak seharusnya aku terus mengganggunya. Jadi sebaiknya aku juga mencari kesibukan.
I need a distraction.



It's another clear night, Rega...
Are you staring at the same star?

Malam ini aku duduk sendirian. Memandangi langit dan seisinya.
Si Bintang Terang menggodaku membayangkannya ada si sini denganku.
“Don’t worry, he’ll be home soon.”
“Oh my God! You scared me, J!”
“Hmm... you want some?”
“Sure. Thanks!”
Jerson’s having some kind of trouble sleeping. Here we are, 2 lonely people talking and sharing beer together. He’s missing some friends and family back in the US.

3 nights later....
“Black coffee please...”
“Right away, Miss”

“Your’re planning to get drunk, huh?”
“No, the plan was to get You drunk! Hahaha...”
Jerson’s having his 2nd Green Apple Martini. Ini adalah sebuah beer house milik kenalannya. Sama-sama Americano. Tidak banyak orang yang tahu tempat ini. Sedikit private memang. Sepintas orang akan menyangka ini hanya rumah tinggal ekspatriat biasa.

2, 3 kali tidak masalah. But this time he’s too drunk to behave. Sampai harus dipapah oleh sekuriti hanya untuk masuk mobil.
Arrrgh, ngerepotin banget sech ni orang!
Aku tidak mau membuat kehebohan di kost-an, terpaksa aku bawa dia putar-putar dulu. Hampir jam 4 pagi dia baru sadar. Tanggung! Kalau kubawa pulang sekarang akan lebih repot lagi nantinya. Aku berhenti di mini market 24 jam untuk membelikan kopi.

Jam 9 pagi...
Kost-an pasti sudah sepi, orang-orang sudah pada berangkat kuliah atau kerja, Bu Wiwin juga pasti sudah standby depan TV di kamarnya, nonton gosip!
Jerson's still got his head dizzy. Aku menuntunnya ke lantai atas, membukakan kunci pintu kamarnya.



“Hey! What the hell you’re doing?!”
"Ssst... Come on, it's just us now..."

Good point!
We went out together but no one has to know the details. 
Right?




Tidak ada komentar:

Posting Komentar