Bawalah pergi cintaku
Ajak ke mana pun kau mau
Jadikan temanmu
Temanmu paling kau cinta
Di sini ku pun begitu
Trus cintaimu di hidupku
Di dalam hatiku
Sampai waktu yang pertemukan kita nanti...
Belum
24 jam saja aku sudah secemas ini. Huhhf...
But
thank God akhirnya Rega mengabariku juga. Dia sudah sampai dengan selamat.
Telephon pertama, tidak bisa ngobrol banyak karena dia sudah ditunggu briefing.
Selama di negara Eropa Utara penghasil Volvo, Ericsson, dan SHARP Electronics (Nordic) itu dia akan
tinggal di sebuah asrama di Malmo City, kota industri di pinggiran selat
Oresund yang memisahkan Swedia dengan Denmark.
Berikutnya
aku harus membiasakan diri pacaran jarak jauh. Oooh begini ya rasanya... “Ngga
puguh!” Perbedaan 5 jam membuatku harus menyesuaikan waktu jika ingin melepas
kangen. Sekedar telephon atau skyping sudah lumayan. Itupun tak bisa lama-lama.
Yaah, apa boleh buat.
After
lunch aku asik skyping denganya sambil memanen melon di teras belakang. Berlaga
seperti reporter program kuliner yang meyakinkan permisanya bahwa melon ini
adalah kualitas nomor wahid. Fresh and sweet! Sangat persuasif! Hahaha...
Aku
lihat Rega sedang sarapan setangkup roti sambil tertawa geli melihat tingkahku.
Of
course, it’s 7.30 in the morning, Sweden time.
It’s
been 8 weeks now.... And this long distance is killing me. Rega bilang dia
makin sibuk. So tidak bisa tiap hari menghubungiku. But I don’t work much
lately. Aku juga tidak punya banyak teman. Rasanya semakin hari semakin
membosankan. Situasi ini membuatku meradang.
“Sabar
ya. Sebulan lagi, babe...”
Oke, I’ll wait
then...
Setelah
itu komunikasi malah bertambah jarang. Alasannya ada semacam ujian simulasi
teknologi smart TV set terbaru. Dia harus amat sangat fokus. Peserta training
tidak hanya dari cabang di Indonesia, tapi juga beberapa tim utusan dari negara
lain. Tim yang mendapatkan nilai sempurna, hasilnya akan dipatenkan dan diterapkan
di semua cabang, all around the world! Satu langkah besar untuk dapat promosi
kilat. Mestinya aku mengerti. Tidak seharusnya aku terus mengganggunya. Jadi
sebaiknya aku juga mencari kesibukan.
I need a
distraction.
It's another clear night, Rega...
Are you staring
at the same star?
Malam ini aku duduk sendirian. Memandangi langit dan seisinya.
Si
Bintang Terang menggodaku membayangkannya ada si sini denganku.
“Don’t
worry, he’ll be home soon.”
“Oh
my God! You scared me, J!”
“Hmm...
you want some?”
“Sure.
Thanks!”
Jerson’s
having some kind of trouble sleeping. Here we are, 2 lonely people talking and
sharing beer together. He’s missing some friends and family back in the US.
3
nights later....
“Black
coffee please...”
“Right
away, Miss”
“No,
the plan was to get You drunk! Hahaha...”
Jerson’s
having his 2nd Green Apple Martini. Ini adalah sebuah beer house milik
kenalannya. Sama-sama Americano. Tidak banyak orang yang tahu tempat ini.
Sedikit private memang. Sepintas orang akan menyangka ini hanya rumah tinggal
ekspatriat biasa.
2,
3 kali tidak masalah. But this time he’s too drunk to behave. Sampai harus
dipapah oleh sekuriti hanya untuk masuk mobil.
Arrrgh,
ngerepotin banget sech ni orang!
Aku
tidak mau membuat kehebohan di kost-an, terpaksa aku bawa dia putar-putar dulu.
Hampir jam 4 pagi dia baru sadar. Tanggung! Kalau kubawa pulang sekarang akan
lebih repot lagi nantinya. Aku berhenti di mini market 24 jam untuk membelikan
kopi.
Jam
9 pagi...
Kost-an
pasti sudah sepi, orang-orang sudah pada berangkat kuliah atau kerja, Bu Wiwin
juga pasti sudah standby depan TV di kamarnya, nonton gosip!
Jerson's still got his head dizzy. Aku menuntunnya ke lantai atas, membukakan kunci pintu
kamarnya.
“Hey!
What the hell you’re doing?!”
"Ssst... Come on, it's just us now..."
Good point!
We went out together but no one has to know the details.
Right?
"Ssst... Come on, it's just us now..."
Good point!
We went out together but no one has to know the details.
Right?






Tidak ada komentar:
Posting Komentar