Rabu, 18 Juli 2012

It’s Gonna Rain... (part 10)


Almost midnight....
Aku masih di airport. Berada di sebuah ruangan bersama orang-orang yang tidak pernah kukenal sebelumnya. Manager dan beberapa rekan kerja Rega pun ada di sini. Kami menunggu keluarganya datang dari Medan. Sementara 3 orang temannya yang ikut dalam rombongan masih dirawat di UGD. Aga tertidur pulas di kursi sambil menyandarkan kepala ke tembok.

00.20...
Ayah, paman, dan adiknya pun sampai. Air mataku sudah surut, tapi lantas kembali pecah saat aku harus menceritakan kembali apa yang terjadi. Feels like dying over and over.

Aku sudah mencoba beberapa kali supaya diizinkan melihat Rega untuk yang terakhir kalinya. Tapi dokter bilang tidak bisa karena aku bukan keluarganya. Bahkan saat aku coba sekali lagi agar aku boleh masuk bersama adiknya, tetap tidak bisa. Belakangan aku baru tahu, itu karena kondisi Rega terlalu parah.

Pagi ini upacara penyerahan jenazahnya dilakukan secara Kristiani. Aku dan Aga hanya bisa ikut menyaksikan dari belakang.

Rega...
Even if you're still here, we can never be together 
Our faith just won't let us be


Prosesi selesai. Jenazah akan dimakamkan di Medan. Pamannya tetap menunggu di airport. Ayah dan adiknya ikut ke Bandung bersamaku. Aku membawa mereka ke tempat kost. Barang-barang berharga milik Rega langsung dikemasi saat itu juga. Semua serba terburu-buru. Aku mengerti, keluarga besarnya sudah menunggu.

“Om, ini kunci mobil sama surat-suratnya.”
“Terima kasih banyak ya, Nak... kalau ga ngerepotin, Om minta tolong sekali lagi.
Baju-baju Si Rega disumbangkan saja ke panti asuhan...”
Lalu dia memelukku penuh keharuan.
Kalau saja Rega berumur panjang, saat tua nanti pasti akan mirip ayahnya.

“Kak Willa, maaf kita ga sempat jadi saudara...”
Kata-kata adiknya terdengar terlalu menyakitkan...
What can I say?
He’s just being honest.


Sudah ku duga, begitu mereka pergi anak-anak yang lain termasuk Bu Wiwin menyerbu dengan rentetan pertanyaan. Aga mengambil alih sesi wawancara, sedangkan aku masuk ke kamar Rega. Lebih tepatnya, bekas kamar Rega.
Lemarinya sudah dikosongkan, tapi tempat tidurnya masih dalam kondisi yang sama seperti waktu aku membantunya berkemas 3 bulan lalu. I can still smell his body scent all over the room...




Aga mengajakku pulang. Di depan sudah ada taksi yang menunggu. Sebelum sampai rumah, aku dan Aga mampir ke sebuah panti asuhan. I got a promise to keep.



I just got home.
The rain is falling....
Hujan yang membawa Rega padaku, sekarang membawanya pergi...





I kept this from Mom for a while.
Tapi setiap ibu mengenal anaknya dengan baik. Belakangan ini aku sering mengurung diri di kamar. Setelah 3 minggu Mama akhirnya menginterogasi Aga yang kebetulan sedang berkunjung.
“Heh Aga! Ari si Willa kunaon?”
“Aya naon Ua? Aga baru dateng udah disemprot aja...”
“Si Willa teh murung wae, jeung tara kaluar ti kamar! Aya kajadian naon di Jakarta teh? Pan jeung kamu ka ditu na!”

Aku menguping laporan Aga dari balik pintu kamar....
Tok tok tok!
“Teh... ada tamu!”
Iih kampret! Bikin kaget aja!
Itu suara adik ku yang paling bontot.

“Pakabar Willa?”
Kakinya sedikit pincang, dan tangan kirinya masih pakai gips.
“Baik. Mas siapa ya?”

Namanya Marcel. Dia salah satu teman Rega yang ikut dalam rombongan ke Swedia. Dia diminta ayahnya Rega untuk mencariku. Marcel tinggal di daerah yang sama dengan Rega di Medan dan kenal baik dengan keluarganya. Tapi untuk apa mencariku?
Ibunya beberapa kali bermimpi Rega menikah dengan seorang perempuan. Wajahnya tidak pernah jelas. Tapi perempuan itu terlihat selalu memakai kalung yang sama. Kalung dalam sebuah jewelry box, salah satu properti Rega yang masih bisa diselamatkan.
“Waktu di Stockholm, Rega pernah tanya soal Zanzloza Zmycken.
So... I guess he bought this for you.”

The silver necklace....
No! It's a white gold necklace with a ring as the pendant!
Something's carved on the inner side.
It says “Marry Me”.




Please...
Let it rain.
I need rain to wash away my tears,
To take away the pain...

It hurts even more today, Rega.
Why won’t you let me go?


1 komentar: