Almost
midnight....
Aku
masih di airport. Berada di sebuah ruangan bersama orang-orang yang tidak
pernah kukenal sebelumnya. Manager dan beberapa rekan kerja Rega pun ada di
sini. Kami menunggu keluarganya datang dari Medan. Sementara 3 orang temannya
yang ikut dalam rombongan masih dirawat di UGD. Aga tertidur pulas di kursi
sambil menyandarkan kepala ke tembok.
00.20...
Ayah,
paman, dan adiknya pun sampai. Air mataku sudah surut, tapi lantas kembali
pecah saat aku harus menceritakan kembali apa yang terjadi. Feels like dying
over and over.
Aku
sudah mencoba beberapa kali supaya diizinkan melihat Rega untuk yang terakhir
kalinya. Tapi dokter bilang tidak bisa karena aku bukan keluarganya. Bahkan
saat aku coba sekali lagi agar aku boleh masuk bersama adiknya, tetap tidak
bisa. Belakangan aku baru tahu, itu karena kondisi Rega terlalu parah.
Pagi
ini upacara penyerahan jenazahnya dilakukan secara Kristiani. Aku dan Aga hanya
bisa ikut menyaksikan dari belakang.
Even if you're still here, we can never be together
Our faith just won't let us be
Prosesi selesai. Jenazah akan dimakamkan di Medan. Pamannya tetap menunggu di airport. Ayah dan adiknya ikut ke Bandung bersamaku. Aku membawa mereka ke tempat kost. Barang-barang berharga milik Rega langsung dikemasi saat itu juga. Semua serba terburu-buru. Aku mengerti, keluarga besarnya sudah menunggu.
“Om,
ini kunci mobil sama surat-suratnya.”
“Terima
kasih banyak ya, Nak... kalau ga ngerepotin, Om minta tolong sekali lagi.
Baju-baju
Si Rega disumbangkan saja ke panti asuhan...”
Lalu
dia memelukku penuh keharuan.
Kalau
saja Rega berumur panjang, saat tua nanti pasti akan mirip ayahnya.
“Kak
Willa, maaf kita ga sempat jadi saudara...”
Kata-kata
adiknya terdengar terlalu menyakitkan...
What
can I say?
He’s
just being honest.
Sudah ku duga, begitu mereka pergi anak-anak yang lain termasuk Bu Wiwin menyerbu dengan rentetan pertanyaan. Aga mengambil alih sesi wawancara, sedangkan aku masuk ke kamar Rega. Lebih tepatnya, bekas kamar Rega.
Lemarinya
sudah dikosongkan, tapi tempat tidurnya masih dalam kondisi yang sama seperti
waktu aku membantunya berkemas 3 bulan lalu. I can still smell his body scent all over the room...
Aga mengajakku pulang. Di depan sudah ada taksi yang menunggu. Sebelum sampai rumah, aku dan Aga mampir ke sebuah panti asuhan. I got a promise to keep.
I just got home.
The
rain is falling....
Hujan
yang membawa Rega padaku, sekarang membawanya pergi...
I kept this from Mom for a while.
Tapi
setiap ibu mengenal anaknya dengan baik. Belakangan ini aku sering mengurung
diri di kamar. Setelah 3 minggu Mama akhirnya menginterogasi Aga yang kebetulan
sedang berkunjung.
“Heh
Aga! Ari si Willa kunaon?”
“Aya
naon Ua? Aga baru dateng udah disemprot aja...”
“Si
Willa teh murung wae, jeung tara kaluar ti kamar! Aya kajadian naon di Jakarta
teh? Pan jeung kamu ka ditu na!”
Aku
menguping laporan Aga dari balik pintu kamar....
Tok
tok tok!
“Teh...
ada tamu!”
Iih kampret!
Bikin kaget aja!
Itu
suara adik ku yang paling bontot.
“Pakabar
Willa?”
Kakinya
sedikit pincang, dan tangan kirinya masih pakai gips.
“Baik.
Mas siapa ya?”
Namanya
Marcel. Dia salah satu teman Rega yang ikut dalam rombongan ke Swedia. Dia
diminta ayahnya Rega untuk mencariku. Marcel tinggal di daerah yang sama dengan
Rega di Medan dan kenal baik dengan keluarganya. Tapi untuk apa mencariku?
Ibunya
beberapa kali bermimpi Rega menikah dengan seorang perempuan. Wajahnya tidak
pernah jelas. Tapi perempuan itu terlihat selalu memakai kalung yang sama.
Kalung dalam sebuah jewelry box, salah satu properti Rega yang masih bisa
diselamatkan.
“Waktu
di Stockholm, Rega pernah tanya soal Zanzloza Zmycken.
So...
I guess he bought this for you.”
The
silver necklace....
No! It's a white gold necklace with a ring as the pendant!
No! It's a white gold necklace with a ring as the pendant!
Please...
Let it rain.
I need rain to
wash away my tears,
To take away the pain...
It hurts even
more today, Rega.
Why won’t you
let me go?






kereen nit..cryin reading it^^keep up the good work^^
BalasHapus